Pemkot Semarang Bangun Taman dengan Konsep Estetis

beritajowo.com//Semarang - Taman kota yang tengah diprogramkan Pemerintah Kota Semarang tak hanya sebagai pemenuhan ruang publik semata namun dikonsep menjadi estetis. Salah-satunya dengan menempatkan karya patung dan objek estetis lainnya di dalam taman tersebut. 

Kepala Bidang Pertamanan dan Pemakaman Disperkim Kota Semarang, Murni Ediati mengatakan, Pemerintah Kota Semarang memang tengah gencar membangun beberapa taman baru dan regenerasi taman lama sebagai bagian ruang publik dalam beberapa waktu terakhir ini. 

Kedepannya rencana pembangunan taman ini di jalankan secara terprogram dalam sebuah Road Map sebagai dari program penataan kota untuk lebih mempercantik kota Semarang.

"Itu sebagai bagian estetika taman kota yang juga membangun dan menempatkan karya patung dan objek estetis lainnya di taman-taman tersebut. Karya-karya patung itu beberapa di antaranya mengisi RTH (Ruang Terbuka Hijau)," katanya, Selasa (23/11/2021).

Di Kota Semarang sendiri, kata Pipie sapaan akrabnya, sesuai regulasi, kapasitas RTH belum tercukupi sesuai aturan pemerintah, yaitu sebesar 30 persen, dengan pilahan 20 persen merupakan lahan publik, dan 10 persen sisanya adalah lahan privat,” imbuh Pipie.

Pipie juga menjelaskan, bahwa RTH setidaknya memiliki enam fungsi, yakni, fungsi ekologis, rekreatif, estetis, planologi, pendidikan, dan fungsi ekonomis. "Pada fungsi estetis itulah maka kehadiran karya seni patung menemukan titik relevansinya," terang Pipie. 

Sementara itu, kurator seni rupa, Kuss Indarto menyambut dengan antusias kehadiran karya patung yang mulai merebak di taman- taman kota Semarang. “Di samping akan menambah bobot nilai humanis dan estetika kota Semarang, karya-karya patung tersebut seperti menyambung kembali sejarah yang terpotong setelah kehadiran patung atau monumen Tugu Muda yang telah hadir tahun 1953 atau lebih dari 65 tahun lalu,” katanya.

Kuss Indarto menambahkan, bahwa setelah monumen Tugu Muda memang ada beberapa karya patung atau karya tiga dimensi di kota Semarang. "Namun nilai monumentalitasnya jauh di bawah Tugu Muda. Juga proses inisiasinya tidak dilakukan dengan sangat serius dan terencana dengan baik. Kali ini, ada keseriusan dan perencanaan yang lebih baik yang dilakukan oleh Disperkim kota Semarang," terangnya. 

Di luar soal pertimbangan artistik dan estetik, kurator Kuss Indarto menilai keberadaan fisik karya yang telah dibangun, seperti patung Pierre Tendean, karya perupa Ponco Widhianto ini relatif mampu memenuhi kriteria kelayakan sebuah karya seni di ruang publik. 

"Selain itu proses penciptaan patung yang didasarkan pada objek ketokohan atau lakon sejarah seperti Pierre Tendean sedari awal sudah memenuhi tahapan- tahapan kajian, riset, pencarian dokumentasi fotografis dan serta juga perihal ijin dari keluarga Almarhum. Sebagaimana juga di lakukan di patung MT. Haryono yang sedang dalam proses pembuatan. Setiap progres pembuatan patung terdokumentasi secara runut dan di lampirlan sebagai bukti laporan ke keluarga Almarhum. Semua proses ini adalah cara bagaimana seniman mengawal Pemerintah Kota Semarang mewujudkan Taman Kota Semarang yang secara fungsinya memanusiakan manusia," katanya. 

Sementara itu, dari aspek penempatan, Kuss menilai secara teoritik bahwa sebaiknya sebuah karya seni patung di ruang publik dalam hal ini taman kota, idealnya mampu memenuhi beberapa hal penting. 

"Yakni, diantaranya karya tersebut sebaiknya berada pada lokasi dengan tingkat lalu lintas pejalan kaki yang tinggi dan menjadi bagian dari jalur sirkulasi kota atau kawasan khusus tertentu. Lalu, karya sebaiknya mudah terlihat dan dapat diakses oleh publik. Serta karya patung tersebut mampu menjadi jangkar bagi lingkungannya dan mampu membuat aktif lokasi di sekitarnya," pungkasnya. 

Komentar

Loading...