Sejarah Pura Ulun Danu Batur

Beritajowo//Bali - Pura Batur atau Pura Ulun Danu pertama kali didirikan pada abad ke-17. Pura ini didedikasikan untuk dewa Wisnu dan untuk dewi danau Dewi Danu. Danau Batur, danau terbesar di Bali, dianggap paling penting di pulau Bali sebagai sumber air utama untuk kegiatan pertanian di Bali. Kata 'Pura' berarti "Pura atau Kuil", sedangkan dua kata ulun ("kepala" atau "sumber") dan danu ("danau", merujuk ke Danau Batur) diterjemahkan sebagai "sumber danau"; dan dengan demikian nama Pura secara harfiah berarti "Pura Sumber Danau". Kata 'batur', setelah desa Batur di mana Pura itu berada, berarti "murni" atau "bersih secara spiritual". Definisi Pura Ulun Danu menggambarkan pentingnya air bagi kemakmuran penduduk desa Batur dan bagi seluruh komunitas Hindu di Bali, terutama dalam mengairi sawah di pulau Bali.

Pura Ulun Danu Batur disebutkan beberapa kali dalam beberapa lontar kuno sebagai salah satu dari sad khayangan, enam kelompok Pura universal.

Sebelum meletusnya Gunung Batur pada tahun 1917, Pura Batur dan desa aslinya (saat itu dikenal sebagai Karang Anyar, yang berarti "Wilayah Baru") terletak di barat daya lereng Gunung Batur itu sendiri. Aliran lahar letusan 1917 menyebabkan ribuan korban. Meskipun hancur, aliran lava hitam berhenti di gerbang Pura Ulun Danu Batur. Karena lava berhenti sebelum mencapai candi, masyarakat melihat ini sebagai pertanda baik dan memutuskan untuk tinggal di daerah tersebut.

Pada 21 April 1926, Gunung Batur meletus lagi, kali ini menghancurkan seluruh desa Karang Anyar. Lava juga melaju ke arah pura, menutupi hampir seluruh kompleks. Terlepas dari kehancuran desa dan juga hilangnya 1.500 penduduk desa, meru tingkat 11 pura ini bertahan. Dengan daerah di sekitar Gunung Batur dinyatakan tidak dapat dihuni selama periode erupsi, penduduk desa Kalang Anyar harus pindah. Proses relokasi dibantu oleh penduduk desa dari daerah sekitarnya, seperti Desa Bayung, Tunggiran, Kedisan, Buanan, Sekardadi. Pemerintah Hindia Belanda mengirim pasukan regional Bangli dan beberapa tahanan untuk membantu relokasi. Kuil 11 tingkat yang selamat diangkut ke lokasi baru, serta perlengkapan penting lainnya dari pura.

Setelah beberapa hari, program pembangunan kembali desa dimulai oleh pemerintah daerah Bangli. Dana dikumpulkan untuk membangun rumah baru, kantor administrasi, dan infrastruktur dasar. Setelah beberapa bulan, daerah di sekitar Gunung Batur dinyatakan aman, dan program pembangunan kembali desa dapat segera dimulai. Lokasi baru untuk desa dipilih, kali ini menanjak di tepi luar kaldera Danau Batur. Tanah dibagikan sesuai dengan jumlah keluarga asli. Seluruh proses diawasi oleh petugas polisi setempat (mantri polisi) untuk menjaga ketertiban. Dengan selesainya rumah-rumah dan infrastruktur dasar, pemerintah daerah Bangli mengumpulkan dana lain untuk membangun sebuah pura baru, Pura Ulun Danu Batur yang sekarang. Dengan selesainya pura pada tahun 1926, upacara dilakukan pura baru.

Komentar

Loading...