Bahasa Ibu dan Budaya Daerah Banyak yang Punah

  • Regional
  • 22 Feb 2018 | 14:42 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 141 kali
image
foto: Istimewa

beritajowo.com / semarang - Budayawan Ahmad Tohari menilai keberadaan bahasa Ibu di berbagai daerah semakin melemah, akibat menurunnya penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat sekitar.

?Hampir di setiap tahun di berbagai wilayah di Indonesia, beberapa bahasa daerahnya semakin punah dan tidak bisa dihidupkan kembali karena sosok penuturnya telah habis,?? ujarnya dalam orasi budayanya tentang ?Membina Tatanan Bermultibahasa dalam Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional? yang digelar di Aula Pertemuan Lantai VI Kampus IV Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Jalan Gajah Raya, Semarang, Rabu (21/2).

Menurutnya, pemakaian bahasa daerah di pedalaman Kalimantan, Sulawesi, ataupun Papua diinformasikan sudah cukup banyak yang hilang. Termasuk di dalamnya yang sebenarnya jumlah penuturnya besar seperti di bahasa Jawa dan bahasa Sunda.

?Kami kira di sinilah pentingnya Unesco menyatakan 22 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Tetapi sekiranya pula bahasa Ibu bukan hal penting untuk dijadikan hari khusus. Seyogyanya, bahasa Ibu adalah bahasa yang kali pertama terdengar oleh seorang anak dari mulut sang Ibu,? tuturnya.

Dari tuturan para Ibu itu, lanjutnya, kemudian akan membangun pondasi kebahasaan dalam diri setiap anak mereka. Bahkan tentang menurun serta melemahnya penggunaan bahasa Ibu, diduga, penyebab utama adalah gejala kekotaan atau urbanisme.

?Budaya kota seakan-akan telah dianggap lebih unggul daripada budaya desa yang tani. Padahal, budaya desa itulah bahasa Ibu yang tumbuh dan berakar. Akibatnya, baik itu para Ibu muda, anak, pegawai muda kian meninggalkan penggunaan bahasa tersebut,? ujarnya.

img
BeJo@17
EDITOR