AJI: Kebebasan Pers di Semarang Penuh Intimidasi

  • Regional
  • 30 Des 2017 | 05:52 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 137 kali
image
foto: Istimewa

beritajowo.com / semarang?- Divisi Advokasi AJI Semarang, Aris Mulyawan mencatat sepanjang tahun 2017, kebebasan pers di Semarang belum menggembirakan. Masih ada indikasi intimidasi dan pelarangan berekspresi di kampus.

AJI Semarang mencatat selain jurnalis, ancaman kekebasan berekpresi juga datang dari institusi kampus menggunakan?UU?11/2008?tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Menurut dia, ada juga indikasi?ancaman terhadap jurnalis yang terjadi di?Semarang?kepada?sejumlah jurnalis yang dipanggil aparat kepolisian usai meliput sidang kematian taruna Akpol pada bulan September 2017.

Melihat kondisi itu,?lanjut Aris,?AJI Semarang menilai masih ada ancaman??kebebasan pers yang dilindungi undang-undang, sebagai kegiatan menginformasikan??ke khalayak masih terganggu.?

?Itu terjadi secara terbuka, maupun secara laten oleh kondisi jurnalis yang belum sejahtera dan rawan mengganggu indepedensi kerja-kerja jurnalistik,? imbuh dia.

Ditambahkannya,?ancaman kekebasan berekspresi kembali terjadi pada 2017, terdapat dua mahasiswa, masing-masing Julio Belnanda Harianja, Fakultas Hukum dan Harist Achmad Mizaki, Fakultas Teknik ?Universitas Negeri Semarang (Unnes) dilaporkan ke polisi oleh kampus, karena menyindir Menristekdikti melalui media sosial. Kedua mahaiswa itu ?dilaporkan setelah mengunggah foto piagam bertuliskan penghargaan atas capaian mencederai asas ketunggalan uang kuliah tunggal (UKT).

Piagam penghargaan bernada sindiran tersebut diunggah keduanya di media sosial pada 7 Mei 2017. Setelah mendapat kencaman dari berbagi pihak, akhirnya laporan tersebut dicabut.

?Meski sejumlah hambatan itu cenderung menurun, namun AJI Semarang menilai masih menjadi tantangan berat bagi kebebesan jurnalis, apa lagi sektor hubungan industrial antara pekerja media dan perusahaan tempat menerbitkan karyanya,? kata dia.

img
BeJo@17
EDITOR

KABAR TERBARU