Suspect di Filipina, Indonesia Bersiap Antisipasi Virus ASF

  • Nasional
  • 14 Okt 2019 | 04:36 WIB
  • Oleh ADV
  • Dilihat 450 kali
image
Para pembicara berfoto bersama seusai seminar. (foto dok)

Beritajowo.com, UNGARAN - Isu penyebaran virus ASF (African Swine Fever) mulai meresahkan peternak babi, menyusul telah terjadinya (suspect) ASF di Myanmar, Filipina dan Timor Leste September 2019. Bagaimana strategi pemerintah Indonesia dalam mengantisipasi ASF, Asosisasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Cabang Jawa Tengah Sabtu (12/12) menyelengarakan seminar Strategi Antisipasi Penyebaran Virus African Swine Fever (ASF) ke Jawa Tengah.
 
Hadir sebagai narasumber pada seminar di Studio Dreamlight World Media itu, Dr drh Tri Satya Putri Naipospos Mphil,PdD (Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan) dan Dr Sauland Sinaga (Ketua AMI Asosiasi Monogastrik Indonesia) dan Arief Wicaksono (Kementerian Pertanian). 
 
Dr Sauland Sinaga (Ketua AMI Asosiasi Monogastrik Indonesia) mengatakan, upaya pemerintah cukup keras untuk mengantisipasi penyebaran virus ASF. Dengan diterbitkannya surat edaran oleh Kementerian Pertanian kapada semua gubernur, maka gubernur punya hak untuk menerbitkan peraturan, jika ASF memang telah membahayakan perekonomian suatu daerah.
 
"Yang jelas negara sangat menjamin kehidupan peternak babi dengan sangat nyaman dan tidak  menganaktirikan mereka. Tapi tentunya pemerintah meminta para peternak untuk lebih jujur dan terbuka mengenai kondisi hewan mereka. Jika terjadi sesuatu (penyakit) agar lebih terbuka lagi," kata Sauland Sinaga.
 
Menurut Dr drh Tri Satya Putri Naipospos, virus ASF hanya menyerang babi. Kenapa afrika, karena pertamakali ditemukan di Kenya pada tahun 1921. Belum ditemukan obat dan faksinnya untuk ASF, tapi tidak menimbulkan efek infeksi ada manusia, kecuali akan mengganggu stabilitas perekonomian," kata dia. 
 
Di Indonesia populasi babi paling banyak ada di NTT, disusul Sumatera Utara, Papua, Sulawesi Selatan, Bali, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah dan Jawa Tengah. Meski konsuken babi hanya sekitar 9 persen dari total penduduk Indonesia, tapi di luar Jawa babi berguna untuk perlengkapan acara-acara adat.
 
Dr Arief Wicaksono menyayangkan, selama ini masih banyak peternak babi yang tertutup, sehingga menyulitkan pemerintah atau dinas terkait untuk pemantauan adanya AFS. "Jadi begitu ada suspect atau gejala sakit apa saja, langsung dilaporkan saja, agar ada penanganan segera," tutup dia.
 
Seminar ini hasil kerjasama antara ASOHI Jateng, SmartPoint, Dreamlight World Media dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jateng I, dan dihadiri oleh para dokter hewan, peternak dan produsen obat hewan. 
img
BeJo@17
EDITOR
Loading...

KABAR TERBARU