Begini Jika Dua Profesor Berdiskusi Soal Pendidikan Indonesia dan India 

  • Regional
  • 16 Sep 2019 | 15:50 WIB
  • Oleh ADV
  • Dilihat 434 kali
image
Prof Budi Widjanarko dan Prof Iwan Pranoto. (foto dok)

Beritajowo.com, UNGARAN - SmartPoint, penyedia konten edukasi Dreamlight World Media (DWM) awal pekan lalu memfasilitasi pertemuan dua profesor dalam sebuah diskusi soal pendidikan, di studio DWM Ungaran. Mereka adalah pakar matematika dan Guru Besar ITB Prof Dr Iwan Pranoto dan Prof Dr Ir Budi Widjanarko, mantan Rektor Unika Soegijapranata Semarang.

Pengalaman Prof Iwan sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedubes RI untuk India, menjadi pijakan diskusi itu. Bagaimana sebenarnya atmosfer dunia pendidikan di India, dengan populasi penduduknya yang lima kali lebih besar dari Indonesia.

"Dengan kondisi populasi seperti itu, maka orang India berpeluang lima kali bisa bertemu dengan orang pintar. Padahal pada saat yang sama, kemauan politik di sana memang jelas. Bahwa Nehru itu memiliki perhatian tinggi pada sains dan pengetahuan umum tinggi sejak lama. Hal itu juga telah ditulis pada institusi perangai ilmiah dalam UU. Berarti ini satu-satunya negara di di dunia yang memakai UU seperti itu," kata Prof Iwan.

Dia melanjutkan, "India sudah mengirimk an robot ke bulan, ke kutub selatannya bulan, meski misi itu gagal. Kenapa kita tidak. Kenapa teknologi peroketan kita tidak semaju India. Negara itu masih mengalami pakar-pakar roketnya membawa roketnya pakai sepeda. Jadi kita tidak mengalami masa merangkak itu,"

Dalam diskusi itu disinggung hampir bersamaannya kemerdekaan kedua negara. India merdeka tahun 1947 dan Indonesia 1945, tidak berbeda banyak. "Tapi kita mengalami masa (tragedi) 65 dan Indina tidak mengalami. Pada persoalan ini Prof Budi Widjanarko menambahkan, "Kita tahu, pada tahun 65 banyak ilmuwan kita yang tidak kembali ke Indonesia. Jadi di sini telah terjadi kesenjangan ilmuwan, ada satu generasi yang hilang. Begitu Jepang masuk, peneliti Hindia Belanda banyak langung pulang ke negaranya. Jadi kita memiliki dua momentum, yakni transisi 45 dan peristiwa 65. Transisinya India lebih mulus dari pada kita," kata Prof Budi.

Sebagai penutup diskusi, Prof Iwan mengatakan, bahwa kemampuan berpikir besar menurut dia yang harus dikembangkan di Indonesia. "Maka kita harus besar hati, kita sebenarnya sudah melakukan hal yang baik," 

img
BeJo@17
EDITOR
Loading...

KABAR TERBARU