Pengantin ISIS Ingin Pulang Kembali Ke Australia

  • Internasional
  • 14 Mar 2019 | 14:05 WIB
  • Oleh bejo25
  • Dilihat 205 kali
image
foto.(istimewa)

beritajowo.com // Australia - Seorang wanita Australia bersama dua anaknya yang berada di kamp pengungsi untuk keluarga ISIS menyatakan ingin pulang kembali ke negaranya.

Pengantin ISIS Australia,Wanita Australia yang diyakini sebagai Zehra Duman kini ditahan bersama kedua anaknya di kamp pengungsi Al Hawl, Suriah.

PM Scott Morrison menegaskan mereka yang mendukung terorisme harus sadar dengan konsekuensinya

Sekitar 30.000 orang meninggalkan Suriah utara di saat pasukan Kurdi melakukan serangan terhadap wilayah ISIS
Wanita itu menolak memberitahu identitasnya, tetapi ABC menyakini dia adalah Zehra Duman, wanita berusia 24 tahun asal Melbourne.

Dalam wawancara eksklusif dengan ABC, wanita itu mengaku ingin membawa putranya yang berusia dua tahun dan putrinya yang berusia enam bulan kembali ke Australia.

Dia mengaku sudah tak punya uang dan mengeluhkan kurangnya makanan di tempat tersebut. "Mereka tidak membiarkan kami menghubungi keluarga kami," katanya.

Dia juga mengatakan ingin kembali ke Australia. "Saya ingin kembali ke negara saya. Saya kira semua orang menghendaki hal itu karena saya warga negara Australia," katanya.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan mereka yang pergi ke luar negeri untuk mendukung kelompokn teroris harus menyadari konsekuensi perbuatan mereka.

Dia menambahkan, mereka akan menghadapi proses hukum di Australia jika berusaha kembali lagi ke negara tersebut.

Kepada ABC, wanita Australia tersebut mengaku telah berusaha melarikan diri dari ISIS selama dua tahun. Namun dia tidak pernah punya peluang.

Dia mengatakan orang tak bisa meninggalkan daerah tersebut tanpa uang, sementara ISIS melarang pengiriman uang dari luar.

Kisah wanita Australia ini tampaknya cocok dengan yang dialami Zehra Duman. Remaja 19 tahun asal Melbourne ini bergabung dengan ISIS pada November 2014.

Zehra pindah ke Raqqa yang diklaim sebagai ibukota ISIS, menikahi kombatan ISIS asal Australia Mahmoud Abdullatif.

Dia dikenal sangat vokal mendukung retorika ISIS di media sosial, serta menjadi perekrut untuk kelompok teroris tersebut.

Di tahun 2015 Zehra, yang menyebut dirinya Umm Abdullatif Austr ali, memposting foto wanita memegang senjata otomatis, dengan kalimat, "Tangkap aku jika kamu bisa".

Akun Twitter yang diyakini milik Zehra tersebut sudah ditutup tahun 2015, namun sebelumnya dia banyak menyerukan aksi kekerasan terhadap non-Muslim.

Pada Februari lalu, ABC memperoleh rekaman seorang wanita yang diyakini sebagai Zehra Duman dan putrinya di Suriah, yang saat itu tampak sehat
Video itu direkam pekerja kemanusiaan asal AS David Eubank di Suriah utara.

Wanita yang kini berada di kamp pengungsi tersebut, menolak memastikan apakah dia Zehra Duman.

Dia mengatakan suaminya itu sudah meninggal dan dia mengaku tak ada jalan keluar dari sana.

Setelah kematian Abdulatiff, Zehra menikah lagi dengan kombatan ISIS lainnya yang juga meninggal dalam pertempuran di kota Al Soussa, dekat Baghouz.

Bulan lalu, Pasukan Demokrat Suriah (SDF) bernegosiasi dengan ISIS agar mengizinkan warga sipil pergi dari wilayah ISIS.

Wanita yang diyakini sebagai Zehra Duman pun ikut dalam konvoi dan tiba di area pemrosesan pengungsi tiga pekan lalu.

Dia mengaku belum melakukan kontak dengan pihak berwenang Australia.

Dia sangat berharap bisa segera keluar dari wilayah tersebut.

Dia mengaku keluarganya sudah tahu dia berada di kamp pengungsi karena sempat menghubungi mereka sebelum meninggalkan Baghouz.

Wilayah Suriah utara saat ini dipenuhi sekitar 30.000 anggota keluarga ISIS yang meninggalkan Baghouz dalam beberapa pekan terakhir.

Pihak berwenang Kurdi menyatakan mereka menyiapkan tiga kali makan sehari bagi wanita dan anak-anak. Mereka juga berusaha semaksimalnya menyiapkan perawatan kesehatan.

Namun mereka mengaku sangat membutuhkan bantuan dan menghendaki negara seperti Australia mengambil kembali warganya.

Juru bicara SDF Mustafa Bali mengatakan sejauh ini belum ada tanggapan atas permintaan bantuan tersebut.

Sejauh ini puluhan anak-anak meninggal dunia di kamp pengungsi itu.

Awal pekan ini, anak pengantian ISIS asal Inggris Shamima Begum dilaporkan meninggal dunia.

Kematian bayi itu memicu perdebatan di Inggris, apakah akan mengizinkan anak-anak kombatan ISIS kembali ke negara asal orangtua mereka.

img
BeJo@25
EDITOR
Loading...

KABAR TERBARU