BI dan Pemerintah Dinilai Mendahulukan Stabilitas Dibanding Pertumbuhan

  • Nasional
  • 21 Feb 2019 | 15:25 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 223 kali
no image
foto: istimewa

beritajowo.com / JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih akan menahan suku bunga di level 6%. Ini sesuai dengan stance policy BI dan Kementerian Keuangan yang senada, yaitu "stability over growth". 

Menurut Vice President Coroparete Secertary Bank BNI, Ryan Kiryanto, besaran suku bunga tak lepas dari pertimbangan kondisi makroekonomi domestik yang stabil dan positif.

"Yaitu melihat capaian kinerja 2018 ekonomi tumbuh 5,17%,  inflasi rendah 3,13?n current account deficit stabil 2,98?ri PDB, serta tensi kebijakan The Fed (Bank Sentral AS) di 2019 yang cenderung dovish (longgar) dibanding 2018 yang hawkish (ketat)," kata Ryan kepada suaramerdeka.com, di Jakarta, Kamis.

Chief Economis t BNI ini menilai tahun 2019 spirit BI dan pemerintah adalah mendahulukan stabilitas, baru kemudian pertumbuhan. 

Padahal jika melihat arah inflasi yang melandai seiring penurunan harga BBM, termasuk avtur, dan penurunan tarif listrik golongan bawah (900 dan 1.200 VA), sebenarnya BI punya dua pilihan, yaitu antara menahan di level 6% atau menurunkan BI7DRR pada RDG BI besuk sebesar 25 bps menjadi 5,75%. 

"Tapi pilihan paling rasional dan strategis saat ini adalah BI tetap menahan BI7DRR di level 6% untuk memprioritaskan stabilitas ketimbang pertumbuhan," kata alumnus FE UGM ini. 

Sebab lain, lanjutnya, tensi ketegangan AS vs Cina terkait trade war belum mereda dan issue Brexit juga masih menghantui perekonomian global. Hal ini berpotensi mengganggu pasar keuangan domestik.

img
BeJo@17
EDITOR
Loading...

KABAR TERBARU