Talkshow Guru Inspiratif Madrasah Spesial Menag Jadi Host

  • Nasional
  • 09 Des 2018 | 05:54 WIB
  • Oleh Ig
  • Dilihat 97 kali
image
foto: Istimewa

beritajowo.com / Bandung (Kemenag) --- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin siang ini,  Sabtu (08/12), menggelar talkshow bersama guru inspiratif dari sejumlah madrasah. Talkshow digelar di salah satu hotel di Bandung. Menag Lukman berperan sebagai pemandu acara atau host. Ada empat guru inspiratif yang hadir sebagai narasumber. Satu guru tidak bisa hadir karena kendala penerbangan, yaitu Abdul Haris dari Alor, NTT. 

Keempat guru inspiratif tersebut adalah Untung (Sumenep, Jatim), Suraidah (Sebatik, Kaltim), Indra Ariwibowo (Semarang, Jateng), dan Supena (Lebak, Banten). Mereka juga mendapat penghargaan dari Kemenag karena  dinilai telah berjuang, berdedikasi, tulus,  serta menginspirasi sebagai guru madrasah.

Talkshow dihadiri Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin,  Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Suyitno,  Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat A Bukhori, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Mahmud, serta 300 kepala madrasah dari berbagai daerah di Indonesia. 

Selaku host, Menag menggali pengalaman mereka dalam mengabdi. Menag misalnya,  menanyakan hal yang paling menyedihkan yang pernah mereka alami. 

Suraidah berkisah tentang madrasahnya yang dirintis dari bawah kolong rumah. Sehingga, banyak orang yang menyebut sebagai sekolah kolong rumah. 

"Anak-anak saat itu juga belum dapat baju seragam, sehingga sekolah pakai baju biasa. Sekolah sering diolok tidak resmi dan tidak baju seragam," kenangnya. Suraidah bersyukur akhirnya mendapat bantuan dari Pertamina seragam merah putih. 

Untung punya kisah berbeda. Dia mengaku sedih saat memberikan hukuman kepada anak, lalu dihadang orang tuanya saat pulang. 

Sementara Supena, sedih setiap musim hujan. Selain akses jalan yang belum aspal, sarana prasarana madrasahnya juga terbatas.

"Kesedihan yang lain, masih ada anak yang pakai sendal karena tidak punya sepatu," tuturnya. 

Sementara Indra, dia sedih karena belum ada regulasi yang mengatur Madrasa Ibtidaiyah Luar Biasa. Sementara, binaan Kemendikbud adalah SDLB. 

"Bantuan dari Kemendikbud tidak diberikan lagi karena dinilai binaan Kemenag. Sementara Kemenag belum ada regulasinya," kisahnya. 

Menag minta agar persoalan guru yang menginspirasi ini dicatat dan ditindaklanjuti oleh Ditjen Pendidikan Islam.  

"Poin yang didapat sangat banyak. Salah satunya, tentang niat dan motovasi mereka melakukan semua ini," ujarnya. 

Indra, kata Menag, mengatakan bisa melakukan semua itu karena mencintai anak didik. Pak Untung meski belum sertifikasi karena persoalan kualifikasi,  sementara muridnya banya yang sudah menjadi guru tersertifikasi,  itu tidak menjadi masalah baginya. Bagi Untung,  sertifikasi bukan menjadi motif baginya untuk mendidik.

"Meski berbeda ruang pengabdian, ada kesaman di antara mereka, yaitu: rasa cinta pada generasi mendatang dan itu adalah kekuatan yang luar biasa," ujar Menag.  

"Terima kasih telah berbagi pengalaman yang sangat menginspirasi. Ini memotivasi kami untuk lebih meningkatkan perhatian dan pelayanan kepada guru kita," tandasnya. 

Berikut profil singkat kiprah kelima guru inspiratif madrasah:

Pertama,  Ahmad Haris (Guru Madrasah di Pulau Buaya,  Alor, NTT). Ahmad Haris harus berenang menyebrang laut saat mengajar. Ini sudah dilakukan belasan tahun, sejak pertama kali mengajar pada 2002.

Kedua,  Untung (Guru Madrasah Al Miftah di Sumenep, Madura, Jawa Timur). Untung tidak memiliki dua tangan. Namun,  itu tidak menjadi halangan baginya untuk terus mengabdi sebagai guru. Untung mengajar dengan menggunakan kakinya untuk menulis. Ini dilakukan lebih satu dasawarsa.

Ketiga,  Suraidah (Kepala Madrasah di Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara). Dia guru dan kepala madrasah yang juga dikenal dengan Sekolah Tapal Batas. Lokasinya, berada di  perbatasan Malaysia dan Indonesia. Madrasah ini beroperasi sejak 2014. Peserta didik yang belajar di madrasah ini kebanyakan adalah anak TKI. 

Keempat, Indra Ariwibowo (Kepala Madrasah MILB YKTM Budi Asih, di Sampangan Semarang, Jawa Tengah). Indra memimpin madrasah yang dalam layanan pendidikannya membutuhkan kesabaran,  dedikasi,  keikhlasan agar anak didik mandiri, dan berkarakter. Menurutnya,  tantangan terbesar adalah menyadarkan orang tua untuk mau menyekolahkan anaknya.

"Mereka berhak mengenyam pendidikan dan diperlakukan secara adil dan sama dengan anak di sekolah umum lainnya," ujarnya. 

Saat ini tercatat ada 43 siswa yang belajar di MILB yang dipimpinnya. Mereka tersebar dari kelas 1 hingga kelas 6. Mereka terdiri dari siswa tuna netra,  hiper aktif,  tuna rungu,  tuna daksa,  tuna grahita, tuna laras, dan tuna ganda.

Kelima,  Supena (Guru Madrasah Al Ishlah di Lebak, Pandeglang, Banten). Supena mengabdikan hidupbya untuk mengajar di madrasah daerah pedalaman. Dia bertekad untuk ikut berkontribusi dalam mencerdaskan anak anak bangsa, meski dari daerah terpencil.  

img
BeJo@17
EDITOR

KABAR TERBARU