Tahapan Seleksi Gladiator Siber, Dari 7.965 Tersisa 100 Peserta

  • Nasional
  • 11 Nov 2018 | 01:11 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 107 kali
image
foto: Istimewa

beritajowo.com / jakarta - Program Born to Protect, menurut Rudiantara dilatari pemikiran untuk menyiapkan sumberdaya manusia untuk memproteksi negara Indonesia dari serangan terhadap jaringan siber. Adapun untuk menyeleksi talenta terbaik, Kementerian Kominfo bekerja sama dengan PT Xynexis.

Program Born To Protect tahapan final telah berlangsung di Pusat TIK Nasional, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten pada 25 September sampai dengan 5 Oktober 2018.  Acara itu diiikuti oleh 100 orang yang terpilih dalam beberapa tahapan kegiatan sebelumnya. 

CEO Xynexis Internasional, Eva Noor mengatakan timnya bersama Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo telah dilakukan audisi di 10 kota untuk mencari 100 orang peserta Born to Protect Digicamp terbaik. 

“Audisi langsung di tujuh kota, Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta, Palembang, Makassar, serta Samarinda. Dan tiga kota dilakukan audisi secara online, Bali, Medan dan Manado,” katanya.

Menurut Eva, dalam sesi audisi terdapat 7.965 orang peserta yang memenuhi persyaratan, dan diseleksi menjadi 1000 orang. Kemudian berlanjut pada tahapan semi final, 1000 orang lolos seleksi itu harus melalui technical drill berupa capture the flag technique.

"1.000 peserta ini mendapatkan sertifikasi international dari EC-Council. Dan di babak final kita menyaring 100 peserta dari 1000 peserta. 100 peserta terbaik ini masuk Digicamp selama dua minggu dan mendapatkan training untuk Network Defender dan Ethical Hacking, serta  mendapatkan sertifikasi International tambahan lagi,” jelasnya.

Plt. Direktur Pengendalian Aplikasi Informatika Ditjen Aptika Kementerian Kominfo, Riki Arif Gunawan mengatakan keamanan siber menjadi isu prioritas era digital dan menjadi salah satu agenda utama pemerintah dalam memasuki era industri 4.0 yang berbasis internet of things (IoT).

“Dengan terus bertambahnya kerumitan, frekuensi dan intensitas serangan siber yang menyerang infrastruktur-infrastruktur kritis, maka baik pemerintah maupun industri mau tidak mau harus mulai menerapkan langkah-langkah pengamanan dengan lebih serius, salah satunya dengan melalui peningkatan kapasitas sumberdaya manusia di bidang keamanan siber,” katanya.

Menurut Riki Gunawan, saat ini secara global maupun di Indonesia, terdapat gap yang cukup besar antara kebutuhan dan kesiapan SDM cybersecurity baik untuk lembaga pemerintahan maupun sektor privat dan industri. 

Sementara dunia pendidikan, kekhususan di bidang IT di Indonesia belum seluruhnya bisa menampung dan mengajarkan cybersecurity yang bisa langsung diterapkan pada Industri.

“Cybersecurity sendiri merupakan keahlian yang memadukan tentang skill, management, technology dan seni. Di era digital saat ini, kebutuhan SDM cybersecurity dengan skill dan kapabilitas yang baik sangat diperlukan sehingga mengarahkan keahlian tersebut akan menjadi nilai tambah yang akan diperoleh dari apa yang telah didapatkan melalui pendidikan formal. Hal ini menjadi perhatian utama Pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan SDM Cybersecurity Nasional,” jelasnya.

img
BeJo@17
EDITOR

KABAR TERBARU