ICON-UCE: Partisipatory Action Research, Jalan Tengah Kesenjangan Kampus dan Kebutuhan Masyarakat

  • Nasional
  • 11 Okt 2018 | 19:11 WIB
  • Oleh bejo22
  • Dilihat 116 kali
image
foto: beritajowo.com/dok

beritajowo.com / Malang (Kemenag) --- Partisipatory Action Research (PAR) bagi Peneliti Indonesian Society for Social Transformation (Insist) Nurhady Sirimorok adalah jalan tengah mengatasi kesenjangan penelitian kampus dengan manfaat yang betul-betul dirasakan masyarakat.

Menurutnya,  selama ini masyarakat pedesaan memendam masalah dengan para peneliti. Kerap kali penelitian ternyata tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Kebijakan yang berdasarkan penelitian kampus pun, tuturnya, juga sering bias karena tidak benar-benar mengenai masyarakat. 

Lulusan Sastra Inggris Universitas Hasanuddin ini menceritakan, banyak masalah yang muncul akibat penlitian yang salah kaprah. Salah satunya, ada satu pedesaan di wilayah Sulawesi ditanami pohon pinus. Penanaman tersebut ternyata berbahaya bagi masyarakat karena sifat pohon pinus yang rakus air, melahirkan kelangkaan air di sana. Perguruan tinggi, tuturnya, tidak banyak membahas pengaruh pohon pinus tersebut terhadap masyarakat. 

Ada pula program pengabdian masyarakat yang hanya menempel stempel-stempel keagamaan di pinggir jalan tanpa menyentuh masalah inti masyarakat setempat, sehingga tidak begitu bermanfaat. 

“Mereka tidak punya hasil penelitian untuk memback up advokasi, ” katanya saat mengisi International Conference on University Community Engagement (ICON UCE) 2018 di UIN Maliki, Malang, Selasa (09/10).

Masalah-masalah seperti itu, tutur Nurhady, lahir karena kesenjangan kampus dan masyarakat. Baginya, kampus dalam keadaan seperti itu tidak boleh mengajari masyarakat, namun harus belajar kepada masyarakat menggunakan PAR. 

“Kalau kita datang mau belajar dari saya, itu berbeda response. Itu artinya kita benar benar mau belajar. Sehingga kita bisa menemukan isu yang begitu penting, ” katanya.  

Nurhady melanjutkan, PAR membuat peneliti dan masyarakat sejajar, sehingga menghapus relasi kuasa antar keduanya. 

“PAR adalah model penelitian yang menihilkan batas antara peneliti dan masyarakat yang diteliti, ” ungkapnya. 

Manfaat PAR lainnya, menghancurkan hierarki antara penelitian dan tindakan. Hasil penelitian kampus berupa saran seringkali hanya didengarkan namun tidak dijalankan. Melalui PAR, maka saran hasil penelitian akan langsung segera tereksekusi.  

“Itu menunjukkan bahwa tidak cukup universitas atau perguruan tinggi berhenti pada memberi saran. Itu harus diikuti, ” ujarnya.  

Keunggulan PAR dibanding model lain adalah unsur partisipasifnya. Karena hilangnya sekat peneliti dan masyarakat, kedua pihak menjadi lebih terlibat dan disiplin ilmu dalam PAR merupakan integrasi dari beberapa ilmu, tidak tunggl. 

“Warga melakukan penelitian bersama sama dari proses awal sampai penggunaan hasil penelitian tersebut, ” ujarnya.  

Namun, Noorhady pun menggarisbawahi bahwa PAR tidak berarti sempurna. Beberapa kampus sudah menjalankan PAR namun tetap tidak efektif. Masalahnya, PAR membutuhkan waktu lama dan bertahap untuk mengungkap permasalahan di masyarakat sehingga solusi benar-benar sesuai.

“Par hanya bisa dilakukan dalam waktu lama, ” ungkapnya. 

Kendala inilah yang membuat PAR tidak mudah dijalankan perguruan tinggi. Periode program pengabdian masyarakat perguruan tinggi hanya berjalan singkat. Kalaupun bisa lama di suatu daerah, maka pada beberapa waktu sekali, ada pergantian peneliti. Menjaga kualitas peneliti lama dan peneliti baru inilah yang menjadi kendala. 

Bila kendala itu selesai, Nurhady menuturkan, masyarakat bisa mengadvokasi masalah inti mereka ke pemerintah dengan basis penelitian-penelitian universitas. 

“Perguruan tinggi bisa membantu melakukan advokasi ke atas.” paparnya. 

img
BeJo@17
EDITOR

KABAR TERBARU