PLN : Genset Lebih Efisien untuk Layani Warga di 22 Desa di Kepulauan Madura

  • Nasional
  • 24 Sep 2018 | 08:58 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 142 kali
image
foto.(istimewa)

beritajowo.com // Madura - Sebanyak 22 desa yang tersebar di sembilan kepulauan di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan, Madura, Jawa Timur, belum teraliri listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero).

Perusahaan berpelat merah itu terus berupaya mencapai target tahun depan agar semua warga setempat bisa menikmati aliran listrik.

Manager Senior General Affair PLN Unit Induk Distribusi Jawa Timur, Dwi Suryo, menjelaskan bahwa sementara ini sebagian warga di 22 desa terpencil itu menerangi rumah mereka dengan turbin pribadi atau hasil patungan. Maka pemanfaatannya dibatasi hanya tujuh jam dalam sehari-semalam.

PLN, kata Dwi, diberi tugas oleh pemerintah untuk melayani warga di 22 desa terpencil di sembilan kepulauan itu pada 2019. Pembangkit listrik yang sudah mulai digarap di sana bertenaga genset.

Menurutnya dipilihnya genset Karena 22 desa itu berada di pulau jauh sehingga lebih efisien ketimbang pembangkit listrik tenaga uap.

"Ketimbang membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) diperlukan biaya lebih besar dan prosesnya lebih lama, karena harus membangun pelabuhan dan sebagainya. Dengan mendirikan genset lebih efisien," kata Dwi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada Minggu, 23 September 2018.

Dia menjelaskan, total desa yang ada di Jatim sekitar 8.504 desa, dan hanya 22 desa di Jatim yang belum teraliri listrik PLN, yaitu di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan.

Diketahui pelanggan PLN di Jatim mencapai 11.300.000 kepala keluarga, dan hanya tinggal 5,6 persen kepala keluarga di Jatim yang belum menikmati aliran listrik PLN, itu sudah termasuk 22 desa di sembilan kepulauan di Madura.

Hal yang pasti, setiap tahun jumlah pelanggan mengalami peningkatan. Di Kabupaten Jember, misalnya, pada tahun 2015 jumlahnya sekitar 847 ribu pelanggan, kemudian tahun 2016 sekitar 879 ribu, dan 2017 mencapai 917 ribu, sehingga rasio elektrifikasi berada di angka 83,80 persen.

Manajer Unit Pelaksana Proyek Ring Jawa Bagian Timur dan Bali (JBTB) II Indrayoga Suharto, menjelaskan, rata-rata pertumbuhan beban puncak selama 10 tahun terakhir sebesar 4,9 persen, hal itu diiringi proyeksi rata-rata pertumbuhan penjualan energi selama 10 tahun sebesar 5,29 persen.

img
BeJo@25
EDITOR

KABAR TERBARU