Kepala BNPT Wanti-Wanti Radikalisme Incar Masuk ke Perguruan Tinggi

  • Regional
  • 13 Agu 2018 | 06:44 WIB
  • Oleh Ig
  • Dilihat 96 kali
image
foto: Beritajowo.com/dok

beritajowo.com / Semarang – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Drs Suhardi Alius MH, meminta seluruh pengelola perguruan tinggi di Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus radikalisme yang masuk dan berkembang di lingkungan kampus. Pasalnya, masih ada mahasiswa yang ketahuan terlibat paham radikalisme.

“Tidak sedikit mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia yang terpapar paham radikalisme. Penerimaan mahasiswa baru adalah masa rawan, berbagai modus dilakukan untuk menarik mahasiswa ikut dalam kelompok mereka,” ujar Komjen pol Suhardi di Grha Kebangsaan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, Jumat (10/8).

Hadir pula dalam sosialisasi pendidikan antiradikalisme bertajuk “Penguatan Perguruan Tinggi Swasta dalam Menangkal Radikalisme di Jawa Tengah, Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP, Sekda Jateng Sri Puryono KS MP, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Kepala Lembaga Layanan Dikti Wilayah VI Prof Dr Sugiharto, serta para pimpinan perguruan tinggi swasta wilayah VI Jateng.

Dalam paparannya, Suhardi menyebutkan berbagai modus dilancarkan untuk menyebarkan paham radikalisme di lingkungan kampus. Antara lain, membantu mencari tempat kos para mahasiswa baru, meminjamkan buku, menyebarkan isu intoleran di asrama mahasiswa, atau menggunakan tempat ibadah untuk ceramah hal-hal yang provokatif.

“Bahkan ada pula dosen yang mengintimidasi mahasiswa dengan nilai. Apabila ada dosen yang mengancam mahasiswa dengan nilai supaya mengikuti paham radikalisme, jangan takut melapor ke rektor,” terangnya.

Selain itu, kata Suhardi, belajar dari kejadian di sebuah perguruan tinggi di Jatim, ada dua mahasiswa yang tidak masuk kuliah selama beberapa bulan karena pergi ke Persia. Meskipun lama absen, tetapi pihak perguruan tinggi tidak mengetahui. Padahal kedua mahasiswa itu merupakan mahasiswa berprestasi karena pernah mengikuti olimpiade kimia dan menjadi pemenang.

“Selama bergabung dengan kelompok paham aliran keras, mereka dicuci otaknya. Sehingga tidak ada rasa takut sama sekali dan menganggap bom bunuh diri bukan bunuh diri, tetapi sebuah kewajiban untuk suatu kebaikan,” terang Suhardi.

Ia berharap para rektor, dosen juga guru lebih konsentrasi memantau perilaku dan perkembangan peserta didiknya. Sebab beberapa kejadian terkait aksi radikalisme dilakukan di lingkungan tempat pendidika, seperti temuan senjata yang tertanam di sekitar kampus, merakit bom di dalam kampus dan lainnya.

“Nanti para pengelola perguruan tinggi membuat pola-pola penanganan. Kami dari BNPT tidak masuk. Yang masuk manajemen perguruan tinggi, tapi kalau ada kesulitan pihak perguruan tinggi asistensi dengan kami,” kata Suhardi.

Ditambahkan, melalui pola-pola pencegahan dan penanganan radikalisme ini, diharapkan semua dapat melaksanakan kegiatan belajar dengan baik. Para peserta didik menjadi generasi yang luar biasa dan mampu mempertahankan NKRI dengan baik.

BNPT berharap seluruh perguruan tinggi di Indonesia mempunyai pola penanganaan yang sama dan program yang merata, sehingga paham radikalisme dapat dicegah dan tidak berkembang masuk di lingkungan perguruan tinggi.

Sementara itu, Gubernur Jateng H Ganjar Pranowo SH MIP menekankan paham radikalisme menyasar warga dari berbagai latar belakang usia, jenis kelamin, profesi maupun pendidikan. Akibat terpapar paham radikalisme, tidak sedikit yang tiba-tiba meninggalkan orangtua dan keluarga. Sebagai contoh kasus Gafatar, gara-gara menganut paham terlarang itu, suami istri berpisah, tidak ada lagi budi pekerti, nasionaliame dan lainnya.

“Kejadian bom bunuh diri di Surabaya yang dilakukan satu keluarga, itu sungguh tidak masuk akal. Saya tidak bisa berfikir bagaimana mereka rapatnya, bagaimana ada orang tua mengajak anak-anak memasang bom dan meledakan diri,” beber gubernur.

Aksi pengeboman akan mengancam jiwa siapapun, dan itu menjadi tanggung jawab semua pihak sebagai bagian dari NKRI. Bersama-sama mewujudkan kedamaian, semua bisa berkumpul dan melakukan aktivitas dengan nyaman dan aman.

“Jangan sampai kita tidak merawat ini karena di negara lain seperti Suriah dan Afganistan setiap hari perang, kita berjalan tiba-tiba dihadang bom,” katanya.

img
BeJo@17
EDITOR

KABAR TERBARU