Razia Satgas Kamtib di Lapas Sukamiskin Hanya Tinggalkan Kipas Angin

  • Nasional
  • 23 Jul 2018 | 18:07 WIB
  • Oleh sm.com
  • Dilihat 109 kali
image
foto: istimewa

beritajowo.com / jakarta - Sepasukan Polsuspas yang dikirim dari masing-masing Lapas se-Jabar secara bergelombang memasuki Lapas Sukamiskin, Kota Bandung pada Minggu malam itu. Aksi bersih-bersih ini buntut OTT KPK atas Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen.

Ratusan personil yang tergabung dalam "Satgas Kamtib", di antaranya bertubuh besar itu dikerahkan guna "mengobrak-abrik" fasilitas yang dianggap tak sesuai peruntukan di masing-masing sel penghuni Lapas khusus napi koruptor tersebut.

Mereka berkerja selama 4 jam sejak perintah razia diberikan Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham RI, Sri Puguh Budi Utami sekitar Pukul 19.00 Wib. Semua kamar disisir kecuali sel Fuad Amin dan Tb Chaeri Wardana yang masih disegel KPK. 

Berdasarkan data, dari 522 sel hanya dihuni 444 napi. Selain kasus koruptor, napi tersebut juga dihuni napi kasus umum. Usai hasil razia, jadilah halaman dalam Lapas Sukamiskin seperti pasar loakan yang menjajakan aneka barang.

Barang-barang itu terdiri dari duit sebesar Rp 102 juta, kulkas dua pintu, microwave, AC, televisi layar datar, pemanggang roti, speaker, gas elpiji ukuran 12 Kg, dan kompor, hingga dispenser. Semuanya dianggap barang terlarang di dalam sel.

"Hanya kipas angin yang masih dibiarkan di sana (sel). Karena kondisi selnya memang sempit. Ini dikhawatirkan mengganggu kesehatan warga binaan, apalagi ini bangunan lama, WC-nya juga dekat tempat tidur," tandas Sri Puguh.

Dengan kegiatan tersebut, Ditjen Pemasyarakatan memang seperti tengah memulihkan tingkat kepercayaan masyarakat yang untuk kesekian kalinya koyak. Isu fasilitas mewah yang berkembang di masyarakat semakin tak terbantahkan.

Sri Puguh tak menampik bahwa untuk mengembalikan tingkat kepercayaan tersebut tak mudah. Dia yang baru saja menjabat sejak awal Mei lalu itu juga tak menampik persoalan serius ada di sisi personil Lapas.

"Ini persoalan mindset, kalau pakai SOP, barang-barang ini tak akan bisa masuk. Dengan adanya tunjangan kinerja dan gaji memadai seharusnya pula tak ada kasus lagi," tandasnya.

Sebagai pejabat baru, dia menawarkan konsep penguatan integritas. Pihaknya melihat bahwa kasus yang berulangkali sudah berlangsung itu sebagai momentum terbaik untuk bersih-bersih. Tinggal persoalannya, katanya, semua elemen mau berubah tidak.

Dijelaskan, pola pembinaan yang akan ditawarkan mengedepankan sistem reward and punishment, termasuk warga binaan dan petugasnya. Mereka akan ditempatkan di Lapas berklasifikasi super maximum security, minimum security, dan minimum security berdasarkan perilaku yang ditunjukan.

Sri Puguh tak menampik bahwa masyarakat akan bersikap skeptis mengingat pembenahan sebelumnya atas kasus serupa belum juga mampu menghadirkan perubahan. Hanya saja, dia meminta waktu untuk membuktikannya.

"Ini ada titik momentumnya, jadi ini harus berhenti, tapi beri kami kesempatan. Kita (lebih baik) bicara masa depan, karena kalau bicara masa lalu sulit pula untuk mencari kesalahan siapa," katanya.

Kalau tekad tersebut benar dijalankan secara konsisten. Ini akan menjadi angin segar. Hanya saja itu kembali merupakan soal waktu, dan ini pun disadari benar Sri Puguh Budi Utami.

"Karena dalam hubungan yang bukan setahun-dua tahun, ada rasa iba sehingga menghilangkan sisi ketegasan, kemudian orientasinya berkembang pada imbalan," jelasnya.

img
BeJo@17
EDITOR

KABAR TERBARU