BMKG: Cuaca Ekstrem Indonesia Efek Fenomena dari Madagaskar

  • Internasional
  • 22 Jul 2018 | 17:45 WIB
  • Oleh ANT
  • Dilihat 154 kali
image
Foto: istimewa

beritajowo.com / jakarta - Cuaca ekstrem yang berdampak pada gelombang tinggi di Indonesia diyakini bakal terus berlanjut hingga Oktober nanti. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan situasi ini merupakan hasil dari fenomena yang melibatkan kondisi cuaca di Madagaskar dan Australia.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menuturkan cuaca ekstrem di perairan sepanjang Samudera Hindia yang bersentuhan dengan pesisir barat Pulau Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB) ini sejatinya terjadi setiap tahun. Hanya saja pada tahun intensitasnya sedikit meningkat dibanding tahun lalu.

Menurut Dwikorita, semua itu terjadi karena fenomena global yang berlangsung di sebelah timur Madagaskar berupa udara bertekanan tinggi. Udara ini kemudian meluncur menuju udara bertekanan rendah di Australia dan memantul ke wilayah Indonesia. 

"Angin berkecepatan tinggi inilah yang menyebabkan arus gelombang tinggi," tukas Dwikorita.

Fenomena alam ini biasa disebut sebagai Mascarene High. Angin yang berembus akibat siklus ini bisa mencapai 50 km/jam.

Yang menjadi masalah berikutnya adalah keberadaan angin siklon tropis yang datang dari arah Filipina yang berdampak ke perairan timur Indonesia.

Meski siklon ini tidak menimbulkan gelombang setinggi di perairan selatan Indonesia, Dwikorita menyebut udara ini bersifat basah sehingga bisa menimbulkan hujan lebat di sekitar wilayah terdampak.

"Diperkirakan potensi gelombang tinggi ini terjadi mulai dari 22-28 Juli dan puncaknya pada 24-25 Juli," imbuh Dwikorita.

Sebelumnya, BMKG menyebut potensi gelombang tinggi cukup bervariasi mulai dari barat Pulau Sumatera, selatan Pulau Jawa hingga selatan Nusa Tenggara.

"Potensi gelombang tinggi ini mulai dari 22 Juli hingga diperkirakan 26 Juli bahkan 28 Juli masih akan terjadi," terang Dwikorita.

Tinggi gelombang diprediksi cukup bervariasi mulai dari 2,5 meter hingga 6 meter. Namun Dwikorita mengatakan puncak gelombang tinggi ini akan terjadi pada 24-25 Juli besok. 

img
BeJo@17
EDITOR

KABAR TERBARU