Impor Tekstil Turut Dorong Dollar Tembus 14.200

  • Nasional
  • 24 Mei 2018 | 06:22 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 95 kali
image
foto: Istimewa

beritajowo.com / jakarta - Nilai tukar rupiah telah menembus 14200 beberapa hari lalu. Padahal Bank Indonesia sudah beberapa kali melakukan intevensi, termasuk menaikan suku bunga acuan. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menilai pebisnis menganggap tembusnya rupiah ke level 14200 sebagai kelalaian pemerintah dalam menjaga neraca. Menurutnya, meskipun didominasi oleh faktor eksternal, nilai tukar akan tetap stabil jika neraca pembayaran tetap terjaga. 

"Jangan anggap ini masalah ringan hanya karena mata uang negara lain juga ikut melemah, ekonomi kita butuh stabilitas" tegasnya di Jakarta, Rabu (23/5).

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo Jum'at (18/05/2018) lalu yang menjelaskan bahwa defisit neraca perdagangan miliar ikut mendorong pelemahan nilai tukar terkait banyaknya impor karena persiapan bulan Ramadhan. Namun Redma menyatakan bahwa permasalahan defisit perdagangan lebih dari sekedar persiapan Ramadhan.

Pasca efektif berlakunya Permendag 64 tahun 2017, kuarter 1 2018 (yoy) ekspor TPT (tekstil produk tekstil) naik 7,9% sedangkan impor melonjak naik 19,6%, alhasil neraca perdagangan turun 6,5%.

“Neraca perdagangannya masih surplus USD 1,29 miliar tapi turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, kondisi ini ikut berkontribusi pada pelemahan rupiah” jelas Redma. 
Apalagi, pada bulan April impornya naik lagi. "maka kita liat produk pakaian jadi China banjiri pasar untuk lebaran” tegas Redma.

Beberapa tahun terakhir APSyFI selalu meminta pemerintah untuk lebih berpihak pada produk dalam negeri. “Substitusi impor seharusnya sudah dilakukan sejak 4 tahun lalu ketika surplus perdagangan TPT berkurang terus dan total neraca perdagangan kita mulai negatif” katanya. Namun APSyFI justru menyesalkan beberapa kebijakan yang dikeluarkan justru memfasilitasi produk impor.

“Yang terbaru adalah PERMENDAG 64 tahun 2017, sangat memfasilitasi importir lewat Pusat Logistik Berikat (PLB)” tegas Redma.

Ia menjelaskan bahwa pasca penertiban impor borongan penjualan industri TPT di kuartal 4 2017 dan kuartal 1 2018 naik 30%. Namun setelah PERMENDAG 64 berlaku efektif, di kuartal 2 2018 permintaan dari pasar dalam negeri mulai sepi karena sudah digantikan produk impor melalui PLB.

“Kalau memang IKM yang butuh bahan baku, hari ini kita akan lihat produk IKM yang membanjiri pasar, bukan produk impor” tegasnya.

Untuk itu pihaknya tengah meminta agar PERMENDAG 64 dicabut dan dikembalikan ke PERMENDAG 85 tahun 2016 dimana impor bahan baku diatur berdasarkan kebutuhan industri bukan atas permintaan importir pedagang yang mengatas-namakan IKM.

“PERMENDAG 85 2016 itu bukan hambatan yang menyebabkan dweiling time, ini kebijakan yang mengatur pasar dalam negeri agar mendorong produk dalam negeri untuk tumbuh dan mengurangi ketergantungan impor” pungkasnya.

img
BeJo@17
EDITOR

KABAR TERBARU