Tiga Hal 'Potensi Luar Biasa' dari Racun Kalajengking

  • Info Publik
  • 04 Mei 2018 | 19:35 WIB
  • Oleh BBC
  • Dilihat 279 kali
image
foto: Istimewa

beritajowo.com / jakarta - Racun kalajengking yang banyak dibicarakan setelah disinggung Presiden Joko Widodo dalam pidatonya, memiliki 'potensi luar biasa' dalam dunia kedokteran, menurut peneliti serangga.

Presiden Joko Widodo, Senin (30/04) lalu, menyebut zat dengan nilai tertinggi adalah racun kalajengking yang harganya dapat mencapai sekitar Rp145 miliar per liter, pernyataan yang banyak ditanggapi para politisi.

Terlepas dari berbagai komentar itu, secara ilmiah, kandungan racun yang dihasilkan kalajengking memiliki "potensi luar biasa" untuk menghasilkan obat dalam dunia kedokteran, menurut seorang peneliti serangga dari Institut Teknologi Bandung, Ramadhani Eka Putra.

Rama juga mengatakan saat ini racun kalajengking digunakan sebagai terapi kanker karena molekulnya yang kecil dan dapat mencapai bagian tubuh yang sulit dijangkau, seperti otak.

Inilah tiga hal terkait racun kalajengking yang perlu Anda ketahui. Mengapa mahal?

"Jumlahnya sangat sedikit dan satu kalajengking memiliki karakter racun yang berbeda, dihasilkan untuk membunuh atau karena ketakutan. Sulit sekali membuat racun yang sangat spesifik," kata Rama.

"Pengolahannya susah banget, untuk membuat racun yang sangat spesifik... Pengolahan juga perlu proses dan hanya kurang dari 10?ri bagian venom (racun) yang diketahui fungsinya."

"Karena jumlahnya sedikit dan susah untuk dapat standardisasi maka harganya mahal dan pembeli tak mau beli dari perusahaan yang tak jelas karena ini tekrait dengan riset dan nyawa manusia," tambahnya.

Berdasarkan harga dari perusahaan Sigma Aldrich, salah satu perusahaan resmi yang menjualnya, harga racun kalajengking per 10 mg adalah sekitar Rp16 juta.
Terapi kanker dan potensi terobosan di dunia kedokteran.

Jenis racun yang dihasilkan oleh kalajengking adalah racun saraf seperti halnya yang dihasilkan oleh ular kobra.

"Keunikannya bisa berkaitan dengan sel saraf... dan pada saat racun masuk ke sistem saraf, akan masuk ke sistem saraf besar... Dalam beberapa kasus digunakan untuk terapi kanker, karena bisa dengan cepat masuk ke sel saraf terutama di otak. Kasus di Amerika, misalnya adalah anak dua tahun dengan gejala kanker otak dan dipakai dokter untuk terapi dan bisa sampai ke otak."

"Beberapa ilmuwan menggunakan sebagai terapi kanker yang baru karena sifatnya cepat dan ukuran yang tak besar (molekulnya) dan bisa masuk dengan cepat ke bagian tubuh yang relatif susah dijangkau oleh obat yang berukuran lebih besar. Biasanya obat kanker itu molekulnya besar," kata Rama.

"Jadi pengobatan dengan racun kalajengking digunakan karena ukurannya lebih kecil yang susah ditembus oleh obat kanker konvensional."

Rama, dosen dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, ITB, mengatakan racun kalajengking saat ini dipakai sebagai cikal bakal obat masa depan.

"Di masa depan, ini jadi salah satu sumber obat masa depan yang luar biasa. Potensinya luar biasa," kata Rama dan menyatakan tak hanya racun atau bisa kalajengking tapi juga binatang lain.

"Pepida (racun) jenis ini ukurannya kecil dan efek sampingnya kecil. Umurnya pendek dan tak ada istilah kecanduan," tambahnya.

Cara mengambil bisa kalajengking Di sejumlah tempat, kalajengking diternak untuk diambil racunnya guna pengobatan sengatan kalajengking, termasuk di sejumlah negara seperti Afrika.

Pengambilan racun dilakukan dengan kejut listrik di ujung ruas-ruas ekor dengan hasil yang sangat sedikit.

"Saat menghasilkan racun, proses fisiologinya sangat mahal untuk dibuat oleh binatang itu karena kaitan dengan makanan, bukan seperti kita menghasilnya keringat. Jadi prosesnya mahal dan energinya tinggi."

"Belum ada yang menyebutkan berapa tahun binatang ini bisa milking (diambil racunnya). Bila diambil racunnya, umurnya akan berkurang dan (proses menghasilkan racun) bukan sehari-hari yang dilakukan binatang itu."

Kalajengking biasanya menghasilkan racun untuk membela diri atau saat ketakutan dan mencari mangsa.

"Jumlahnya 0,06 mg sampai 0.25 mg sekali dapat, lewat kejutan listrik. Jadi tak bebitu banyak."

Racun bisa diambil paling banyak tiga kali seminggu, tapi menurut Rama, sudah terlalu banyak untuk ukuran kalajengking, yang hidup antara dua sampai tujuh tahun.

"Kalau dipaksa jumlahnya tak optimal, hasilnya harus dikompensasi dengan jumlah makan. Istilahnya membunuh dengan lebih cepat."

"Kalejengking harus makan dalam jumlah tertentu dan energi tertentu untuk menghasilkan satu milimeter racun," tambahnya.

Kalajengking adalah serangga karnivor dengan konsumsi sebagian besar serangga kecil.

Rama juga mengatakan kalajengking dengan racun dengan kadar tinggi banyak ditemukan di Afrika dan daerah-daerah gurun, sementara kalajengking di Indonesia tak menghasilkan racun dengan kadar tinggi.

img
BeJo@17
EDITOR

KABAR TERBARU