Berita Hoaks di Era Digital Makin Menjamur

  • Regional
  • 29 Apr 2018 | 19:12 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 177 kali
image
foto: Istimewa

beritajowo.com / semarang - Di era serba digital, gotong royong seolah memudar. Tak hanya di perkotaan, masyarakat di pedesaan pun semakin jarang berkumpul. Akibatnya, masyarakat mudah terhasut berita yang tak jelas kebenarannya.

Seperti yang ditampilkan Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Kabupaten Temanggung, saat Seleksi Pertunjukan Rakyat FK Metra di Gedung Ki Narto Sabdho, Taman Budaya Raden Saleh, Sabtu (28/4), yang menggambarkan masyarakat di satu desa tengah bergotong royong membersihkan lingkungannya. Saat warga bekerja bakti, ada satu orang yang menolak saat diajak gotong royong. Dia justru menghembuskan kabar bakal ada pabrik tahu yang dibangun di wilayah itu.

Sontak, isu itu menimbulkan reaksi penolakan warga. Aktivitas mereka terhenti hanya untuk membicarakan isu pembangunan pabrik tahu. Warga khawatir pendirian pabrik tahu akan mencemari lingkungan. Ramainya respons warga membuat lurah setempat datang dan memberikan penjelasan jika kabar itu hanya isapan jempol. Mendengar penjelasan lurah, warga pun kembali melanjutkan gotong royongnya.

Hoaks tak hanya mengganggu aktivitas gotong royong warga. Tim FK Metra Kota Semarang menggambarkan penyebaran hoaks yang gencar di media sosial menyangkut pasangan calon yang akan maju pada pemilihan kepala daerah (pilkada).

?Berita penting, calon dari pasangan Partai Pelangi tersangkut masalah narkoba dan melalukan politik uang, membagi-bagikan uang Rp50 ribu kepada warga. Ingat, jangan dipiliih,? ujar salah satu pendukung sambil membaca berita lewat telepon genggam.

Mendengar isu tersebut, pendukung Partai Pelangi pun kebakaran jenggot. Mereka tidak terima jika calonnya dijelek-jelekkan, dan menganggap itu bagian konspirasi pihak lawan untuk menjatuhkan calon Partai Pelangi.

Namun, pendukung calon lainnya juga menerima berita yang serupa melalui media sosial. ?Berita penting, calon pasangan dari Partai Bintang Kejora tersangkut masalah hukum dan korupsi. Ingat jangan dipilih,? ujar pendukung calon lainnya lagi.

Konflik pun memanas. Terjadi saling tuduh antarapendukung. Yang tidak terduga, ternyata berita-berita yang beredar di masyarakat itu adalah skenario lurah dan para tokoh masyarakat. Hal tersebut merupakan simulasi yang direncanakan oleh lurah, bahkan yang mengetik dan menyebarkan berita-berita itu adalah lurah itu sendiri.

Hal itu sengaja dilakukan untuk menyosialisasikan tentang Pilkada damai kepada masyarakat. Selain itu, lurah ingin tahu sejauh mana masyarakat dalam menyikapi hal tersebut. Ternyata benar, masyarakat belum bijaksana dalam menyikapi berita, belum dewasa dan masih mengedepankan emosi dalam bersikap. Begitu ada berita negatif langsung menuduh pasangan lawannya. Ini yang rentan perselisihan.

?Kita jangan mudah terpengaruh. Kita selaku masyarakat Indonesia harus menyukseskan pesta demokrasi dengan suasana yang kondusif dan damai. Karena damai itu indah,? tegas lurah.

img
BeJo@17
EDITOR
Loading...

KABAR TERBARU