KGPPA Mangkunegara IV - Tokoh Filsafat Moral

image
(foto: istimewa)

Beritajowo.com // Babad Tanah Jawa - Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV) lahir pada tanggal 3 Maret 1811 (Senin Pahing, 8 Sapar 1738 tahun Jawa Jumakir, Windu Sancaya) dengan nama kecil Raden Mas Sudira.

Ayahnya bernama KPH Adiwijaya I sementara ibunya adalah putri KGPAA Mangkunagara II bernama Raden Ajeng Sekeli. Oleh karena KPH Adiwijaya I adalah putera Raden Mas Tumenggung Kusumadiningrat yang menjadi menantu Sri Susuhunan Pakubuwono III, sedangkan R.A Sekeli adalah puteri dari KGPAA Mangkunagara II, maka secara garis keturunan R.M. Sudira silsilahnya adalah sebagai cucu dari KGPAA Mangkunagara II dan cicit dari Sri Susuhunan Pakubuwono III.

Selain itu beliau merupakan cicit dari K.P.A. Adiwijaya Kartasura yang terkenal dengan sebutan Pangeran seda ing lepen abu yang gugur ketika melawan kompeni Belanda.

Pada usia 10 tahun beliau dititipkan pada sepupunya, KGPAA Mangkunegara III. Raden Mas Sudira dan diberi nama baru yaitu RMA Gandakusuma.

Sesuai dengan tradisi, para putera bangsawan tinggi yang telah cukup umur harus mengikuti pendidikan militer Mangkunagaran. KGPAA Mangkunegara IV  pada umur 15 tahun menjadi kadet di Legiun Mangkunagaran.

Seperti yang ditulis oleh Letnan Kolonel H.F. Aukes bahwa ada perbedaan pendidikan kadet antara kesatuan tentara Hindia Belanda dengan kesatuan Legioen Mangkoenegaran. Para perwira pelatih di Legioen bukan instruktur, mereka hanya ditugasi membantu memberikan pendidikan pelajaran, selebihnya dilatih sendiri oleh perwira senior Legioen. Begitu lulus pendidikan selama setahun, beliau ditempatkan sebagai perwira baru di kompi 5.

Baru beberapa bulan bertugas di kancah pertempuran, beliau menerima kabar bahwa KPA Adiwijaya I, ayahandanya mangkat. Dengan berat hati terpaksa beliau meminta izin kepada kakeknya, KGPAA Mangkunagara II yang menjadi panglimanya agar diijinkan pulang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayahandanya. Setelah pemakaman, KGPAA Manglunegara IV kembali ke kancah pertempuran.Pasukan Legioen berhasil mengalahkan pasukan Pangeran Dipanegara dan menangkap pimpinan pasukan yang dikenal bernama Panembahan Sungki.

Setelah mendapat gelar Pangeran namanya diubah menjadi KPH Gandakusuma. Beliau menikah dengan R.Ay. Semi, dan dikaruniai 14 anak. Tidak lama setelah KGPAA Mangkunagara III meninggal tahun 1853, KPH Gandakusuma diangkat menjadi KGPAA Mangkunagara IV. Setelah kurang lebih setahun bertahta kemudian menikah dengan R.Ay. Dunuk, putri dalem Mangkunagara III.

Seperti putra bangsawan lainnya, beliau menjalani proses pendidikan yang penuh dengan ajaran moral dalam nuansa budaya Jawa tradisional. Oleh karena tujuan pendidikan pada waktu itu untuk mengembangkan kepribadian, maka beliau diberi pelajaran tentang etika, yaitu pelajaran tentang bagaimana seseorang harus membawa diri, bersikap, dan melakukan tindakan-tindakan agar dapat hidup menjadi pribadi yang baik. Selain etika dan kebudayaan Jawa, beliau juga diberi pelajaran agama Islam, karena hidup di lingkungan yang telah memiliki tradisi keagamaan yang telah mapan.

KGPAA Mangkunegara IV wafat pada usia 72 tahun, tepatnya tahun 1810 Jawa atau 1880 Masehi dengan meninggalkan 11 putra-putri.

img
BeJo@25
EDITOR

Budaya Lokal Terbaru