Ragam Krama Unggah-ungguh Bahasa Jawa

  • Kawruh Jowo
  • 24 Jan 2018 | 11:41 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 3688 kali
image
foto: istimewa

beritajowo.com / - ADAT JOWO :: Ragam Krama dilansir dari Wikipedia.

Yang dimaksud dengan ragam krama adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang berintikan leksikon krama, atau yang menjadi unsur inti di dalam ragam krama adalah leksikon krama bukan leksikon yang lain.

Afiks yang muncul dalam ragam ini pun semuanya berbentuk krama (misalnya, afiks dipun-, -ipun, dan –aken). Ragam krama digunakan oleh mereka yang belum akrab dan oleh mereka yang merasa dirinya lebih rendah status sosialnya daripada lawan bicara. Ragam krama mempunyai tiga bentuk varian, yaitu krama lugu, karma andhap dan krama alus (Sasangka 2004:104).

Krama Lugu / krama madya

Secara semantis ragam krama lugu dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk ragam krama yang kadar kehalusannya rendah. Meskipun begitu, jika dibandingkan dengan ngoko alus, ragam krama lugu tetap menunjukkan kadar kehalusan (Sasangka 2004:105).

Contoh:

Niki bathike sing pundi sing ajeng diijolake? ‘Batik ini yang mana yang akan ditukarkan?’

Mbak, njenengan wau dipadosi bapak. ‘Mbak, Anda tadi dicari bapak’

Tampak afiks di- pada diijolake ‘ditukarkan’ dan dipadosi “dicari’ merupakan afiks ngoko yang lebih sering muncul dalm unggah-ungguh ini darpada afiks dipun-, -ipun, dan –aken. Contoh kalimat di atas bertujuan untuk menurunkan derajat kehalusan (Sasangka2004:108-109)

Krama andhap

Krama andhap yaitu bentuk krama yang digunakan untuk menghormati lawan bicara dengan cara merendahkan diri sendiri.

Contoh:

Bapak kajenge sowan mareng griyani njenengan. “bapak ingin berkunjung kerumah anda”

Krama Alus / karma inggil

Yang dimaksud dengan krama alus adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya terdiri atas leksikon krama dan dapat ditambah dengan leksikon krama inggil atau krama andhap. Meskipun begitu, yang menjadi leksikon inti dalam ragam ini hanyalah leksikon yang berbentuk krama. Leksikon madya dan leksikon ngoko tidak pernah muncul di dalam tingkat tutur ini. Selain itu, leksikon krama inggil atau krama andhap –secara konsisten- selalu digunakan untuk penghormatan terhadap mitra wicara.

Secara semantis ragam krama alus dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk ragam krama yang kadar kehalusannya tinggi (Sasangka 2004:111).

Contoh:

Arta punika kedah dipunlintokaken wonten bank ingkang dumunung ing kitha. ‘uang ini harus ditukarkan di bank yang berada di kota’

Bapak sare wonten kasur.'bapak tidur di kasur

Tampak bahwa afiks dipun- ‘di’ seperti pada dipunlintokaken ‘ditukarkan’ merupakan afiks penanda leksikon krama (Sarangka 2004:113). Cafid (Pend. Bahasa dan Sastra Jawa Unnes).

img
BeJo@17
EDITOR