Filosofi Wanita Jawa (bag.I)

  • Kawruh Jowo
  • 16 Jan 2018 | 12:24 WIB
  • Oleh bejo25
  • Dilihat 1340 kali
image
Foto.(istimewa)

Beritajowo.com // Adat Jowo - Wanita berasal dari bahasa Jawa yang berarti wani ditata (berani ditata).

Pengertian ini telah mencirikan adanya tuntutan kepasifan pada perempuan Jawa.

Dalam perkawinan, istilah kanca wingking, yakni bahwa perempuan adalah teman di dapur akan mewarnai kehidupan perkawinan pasutri Jawa.

Konsep swarga nunut, neraka katut (ke surga ikut, ke neraka pun turut) juga menggambarkan posisi perempuan Jawa yang lemah sebagai seorang istri.

Apa arti kata perempuan atau wanita? Setidaknya ada empat term di Jawa yang digunakan untuk menyebut perempuan.

 - Wadon

Berasal dari bahasa KawiWadu yang artinyakawula atau abdi. Secara istilah diartikan bahwa perempuan dititahkan di dunia ini sebagai abdi laki-laki.

- Wanita

Kata wanita tebentuk dari dua kata bahasa Jawa (kerata basa) Wani yang berarti berani dan Tata yang berarti teratur.Kerata basa ini mengandung dua pengertian yang berbeda. Pertama, Wani ditata yang artinya berani (mau) diatur dan yang kedua,Wani nata yang artinya berani mengatur. Pengertian kedua ini mengindikasikan bahwa perempuan juga perlu pendidikan yang tinggi untuk bisa memerankan dengan baik peran ini.

- Estri

Berasal dari bahasa KawiEstren yang berartipanjurung (pendorong). Seperti pepatah yang terkenal, Selalu ada wanita yang hebat di samping laki-laki yang hebat

- Putri

Dalam peradaban tradisional Jawa, kata ini sering dibeberkan sebagai akronim dari kata-kata Putus tri perkawis, yang menunjuk kepada purna karya perempuan dalam kedudukannya sebagai putri. Perempuan dituntut untuk merealisasikan tiga kewajiban tiga kewajiban perempuan (tri perkawis). Baik kedudukannya sebagai wadon,wanita, maupunestri.

dalam Kitab Clokantara Wanita jawa dicitrakan:

   Tiga Ikang abener lakunya ring loka iwirnya ,ikang iwah ,ikang udwad, ikang janmasri. yen katelu, wilut gatinya, yadin pweka nang istri hana satya budhinya, dadi ikang tunjung tumuwuh ring cila.

Artinya: Tiga yang tidak benar jalannya di bumi yaitu sungai, tanaman melata, dan wanita. Ketiganya berjalan berbelit-belit. Jika ada wanita yang lurus budinya akan ada bunga tunjung tumbuh di batu.

Jelas bagaimana wanita dicitrakan dalam kalimat tersebut. Bahwa wanita disamakan dengan sungai dan tanaman melata yang berbelit-belit.

Dan adalah ketidakmungkinan wanita untuk bisa mempunyai pendirian. Karena tidak akan ada bunga tunjung yang tumbuh di batu.

Juga tentang bagaimana perempuan dibandingkan dengan laki-laki dalam Serat Paniti Sastra:

Wuwusekang wus ing ngelmi, kaprawolu wanudyo lan priyo, Ing kabisan myang kuwate, tuwin wiwekanipun.

Artinya: Katanya yang telah selesai menuntut ilmu, wanita hanya seperdelapan dibanding pria dalam hal kepandaian dan kekuatan serta kebijaksanaanya.(blogspot.co.id)

img
BeJo@25
EDITOR
Loading...

Budaya Lokal Terbaru