Ngelmu Pring, Sebuah Filosofi Pandangan Hidup Orang Jawa

  • Kawruh Jowo
  • 14 Jan 2018 | 12:03 WIB
  • Oleh bejo25
  • Dilihat 3005 kali
image
Foto.(istimewa)

beritajowo.com // kawruh - Sebagai salah satu etnis terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, masyarakat Jawa memiliki berbagai filosofi hidup yang berkaca dari alam sekitar.

Seperti pohon bambu atau pring (dalam bahasa Jawa) sebagai salah satu aspek dalam unsur kebudayaan dan kepercayaan yang tak luput dari penganalogian falsafah masyarakat Jawa.

Selanjutnya dapat ditemukan falsafah bambu sebagai pedoman hidup ini dikenal dengan Ngelmu Pring (Belajar dari Bambu) yang merupakan salah satu gambaran karakteristik orang Jawa.

Seorang antropolog Niels Mulder dalam bukunya Mistisme Jawa : Ideologi di Indonesia menjelaskan bahwa etnis Jawa di Indonesia berjumlah lebih dari 40 persen dan 85 persen diantaranya memeluk agama Islam, namun beda secara kultural dan tradisi.

Tradisi Jawa dihimpun dari kesusasteraan Sansekerta selama ribuan tahun seperti Pararaton, Negarakertagama, dan Babad Tanah Jawi.

Dari sini kemudian muncullah ajaran Kejawen, dan Kejawen bukan kategori religius melainkan lebih kepada etika dan sebuah gaya hidup yang diilhami dari pemikiran Jawa.

Sementara itu salah seorang Indonesianis Ben Anderson dalam tulisannya Mitologi dan Toleransi Orang Jawa menyebutkan bahwa karakteristik orang sebagaimana tercermin dalam dunia Wayang.

Wayang adalah pandangan moral yang menjadi pedoman terhadap perilaku orang Jawa. Disana tergambar sifat-sifat manusia yang dicerminkan lewat tokoh didalamnya.

Analogi yang demikianlah pada akhirnya memunculkan falsafah-falsafah dalam kehidupan masyarakat Jawa. Oleh karena itulah terkadang orang Jawa memiliki kehidupan yang sangat spesifik.

Ki Ageng Soerja Mentaraman, salah seorang filsuf Jawa menyebutkan bahwa manusia sendirilah yang mampu mencapai kesempurnaan dan mengembangkan pengetahuan diri dan pemahaman mereka tentang suatu kehidupan.

Pengembangan pengetahuan dapat diperoleh dengan berbagai macam cara, termasuk diantaranya adalah dengan memahami dan memaknai keberadaan alam lingkungan sekitar.

Lalu menganalogikan sesuatu lantas menjadikannya sebuah falsafah dan petuah hidup bijak. Dan salah satu yang dapat dianalogikan adalah pohon bambu atau dikenal sebagai Ngelmu Pring.

Beragam Jenis Bambu dan Filosofinya bagi Orang Jawa :

Bambu atau Pring dalam bahasa Jawa, memiliki berbagai ragam jenis diantaranya bambu kuning (pring kuning), bambu cendhani, bambu apus, bambu wuluh, dheling, petung, dan bambu ori.

Nama dari jenis bambu tersebut dalam falsafah hidup orang Jawa memiliki makna-makna filosofis tertentu. Adapun diantara filosofis diantaranya adalah :

"Pring Dheling tegese Kendhel lan Eling, kendhel mergo eling timbang grundel nganti suwing..”

Bahwa orang hidup haruslah itu haruslah tau diri dan selalu mawas diri, jangan selalu menggerutu dalam menjalani kehidupan).

“Pring Ori, urip iku..mati kabeh seng urip mesti bakale mati” 

Hidup itu mati dan semua yang hidup pasti mati.

“Pring Wuluh, urip iku tuwuh ojo mung emboh ethok-ethok ora eruh” 

Hidup itu tuwuh, selalu dinamis, dan jadi orang janganlah bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu menahu apa yang seharusnya kita ketahui.

“Pring Cendhani, urip iku wani ngadepi ojo mlayu mergo wedhi”

Dalam menjalani hidup kita haruslah jadi seorang pemberani, berani menghadapi segala situasi dan jangan lari karena takut.

“Pring Kuning, urip iku eling wajib podo eling marang sing peparing"

Pesan dari wejangan tersebut adalah, hidup harus selalu ingat pada Sang Maha Pengasih.

“Pring Apus, urip iku lampus dadi wong urip ojo apus-apus”

Walaupun hidup dinamis, namun hidup juga mudah rapuh atau lampus. Maka dari itu orang janganlah suka berbohong agar hidup kita tidak semakin rapuh.

“Pring Petung, urip iku suwung senajan suwung nanging ojo podo nganti bingung”

Hidup itu selalu dipenuhi masalah, dan terkadang masalah membuat kita semakin suntuk suwung. Namun, meskipun hidup penuh masalah kita hendaknya jangan selalu bingung.

Falsafah Ngelmu Pring juga menyebutkan bahwa “Pring kuwi suket, dhuwur tur jejeg rejeki seret ora usah podo buneg”

Walaupun bambu adalah masuk dalam keluarga rumput namun dapat berdiri tegak, walaupun rejeki sedang seret hendaknya jangan terlalu suntuk.

“Menungsa podo eling yen tekan titi wancine bakal digotong anggo pring, bali neng ngisor lemah podo ngisor oyot pring”.

Apabila manusia sudah sampai waktunya (dalam hal ini mati) juga akan diusung dengan keranda yang terbuat dari bambu menuju ke tempat peristirahatan terakhir.

Sebagaimana hal ini dapat kita temui dalam upacara kematian masyarakat pedesaan Jawa. Setelah diusung dan dimakamkan, maka sang manusia tersebut akan kembali kepada bumi dan beriringan dengan akar-akar bambu.

Masyarakat Jawa juga memiliki prinsip bahwa hidup itu berjalan seperti air, dan kita mengalir bersamanya. Pun demikian dengan bambu yang memiliki sifat “Ora gampang tugel, merga iso melur”, (tak mudah patah, karena lentur).

Bagi masyarakat Jawa sifat bambu yang sedemikian memiliki makna yakni “Urip kuwi ojo podo kaku, meluro lan pasraho. Ojo mangu-mangu, nging terus mlaku”.

Yang berarti, dalam menjalani hidup kita janganlah menjadi orang yang kaku, bersikaplah melur atau fleksibel dalam artian kita selalu bersikap terbuka dan membuka diri.

Hidup juga hendaknya jangan berpangku tangan, terus berjalan dan berusaha hingga Tuhan menunjukkan hasilnya. Usaha tersebut juga dibarengi dengan doa agar hidup selalu dalam lindungan Tuhan yang mengatur seluruh hidup kita. (Indonesiana Tempo)

img
BeJo@25
EDITOR

Budaya Lokal Terbaru