Sutasoma Titisan Sang Buddha, Pembawa Berkah bagi Kerajaan Hastina (bag II)

image
Foto.(istimewa)

Beritajowo.com // Babad Tanah Jowo - Dasabahu menyerang Sutasoma dengan bergai senjatanya, namun tidak ada satupun dari senjata itu yang bisa melukainya.

Resi Kesawa kemudian menenangkan Dasabahu dan memberitahu bahwa yang dia serang adalah pangeran kerajaan Hastina yang juga adik sepupunya. Ayah dari Dasabahu adalah kakak dari Ibu Sutasoma. Dasabahu kemudian memberi hormat kepada Sutasoma dan kemudian meminta agar dia bersedia singgah ke Kerajaan Dasabahu dan menikah dengan adiknya.

Sutasoma menolak permintaan tersebut dengan alasan harus segera kembali ke Hastina menemui orang tuanya. Namun Dasabahu memaksa dan mengancam akan membunuh raksasa Sudahana, jika Sutasoma tidak mengikuti keinginannya. Akhirnya Sutasoma bersedia mengikuti Dasabahu.

Kemudian diceritakan kegundahan Candrawati adik dari Dasabahu ketika tahu dia dijodohkan dengan Sutasoma. Dia takut jika sutasoma mau menikahinya hanya karena permintaan kakaknya, sedangkan bidadari yang menggoda Sutasoma saja tidak diindahkan olehnya, bagaimana mungkin dia bisa menaklukan hati sang pangeran.

Dia juga merasa tidak nyaman karena tidak diberikan kebebasan memlih calon suaminya. Suraga salah seorang pengasuhnya kemudian memberikan wejangan kepadanya. Akhirnya Candrawati bersedia menemui Pangeran, namun dia masih ragu. Suraga berniat menyampaikan kepada Raja Dasabahu mengenai kegundahan adiknya agar raja membatalkan pernikahan tersebut.
 
Namun Candrawati melarangnya, dia menyadari bahwa sebenarnya dia jatuh cinta kepada pangeran, dan tidak melihat ada yang buruk darinya, hanya saja dia masih ragu. Dia takut apabila nanti pangeran meninggalkannya untuk bertapa lagi dan juga dia merasa tidak sepadan dengan pangeran yang sangat ternama tersebut.

Akhirnya pernikahan dilaksanakan dan selajutnya dikisahkan percintaan antara Sutasoma dan Candrawati hingga akhirnya mereka kembali ke Hastina dan akhirnya Sutasoma menjadi Raja disana.

Sementara itu diceritakan Purusada sedang berusaha mengumpukan 100 orang raja demi memenuhi janjinya kepada Bhatara Kala. Dikisahkanlah berbagai pertempuran yang dilewati oleh raja Porusada untuk mengumpulkan 100 orang raja tersebut.

Hingga akhirnya dia berhasil mengumpulkan 100 Raja tersebut dan mengahturkannya ke Bhatara Kala. Namun, Bhatara Kala menolaknya karena meraka adalah raja hina, dia hanya menginginkan raja mulia yaitu Sutasoma. Mendengar hal tersebut Purusada segera bergerak bersama pasukannya ke Hastina untuk menangkap Sutasoma.

Kabar kedatangan Pursada dan pasukannya segera menyebar, Sutasoma yang mendengar hal tersebut ingin menyerahkan dirinya agar tidak terjadi peperangan. Biarlah dia yang dikorbankan asalkan tidak terjadi peperangan, namun hal tersebut ditentang oleh seluruh raja bawahan yang dipimpin oleh Dasabahu, lalu mereka semua berangkat ke medan perang untuk melawan Purusada.

Kemudian dikisahkan peperangan besar yang terjadi di padang Kuru antara pasukan Purusada dengan Dasabahu. Banyak yang menjadi korban baik di pihak raksasa maupun Hastina. Hingga akhirnya Dasabahu pun gugur.

Sutasoma yang mengetahui hal tersebut segera turun ke medan perang. Ajaibnya begitu  dia memasuki medan perang, semua raja yang telah gugur hidup kembali. Hal itu membuat purusada marah dan mengamuk dan menyerang Sutasoma, namun semua senjatanya tidak ada yang berhasil melukainya.

Lalu Purusada berubah menjadi Kalaagnirudra (bentuk bhairawa dari rudra/siwa) dan bersiap menghancurkan segalanya. Segeralah para Dewa dan Rsi turun dan mengingatkan Rudra tentang hakikat mereka, bahwa sebenarnya Siwa dan Budha (Jina) itu adalah satu

"rwaneka dhatu winuwus wara budha wiswa, bhineki rakwa ring apan kena parwanosen, mangkang jinatwa kalawan siwatatwa tunggal, bhineka tunggal ika tan hana dharmma mangrwa "

(konon katanya budha dan siwa itu dua unsur berbeda, mereka memang berbeda, tapi bagaimana mengenali perbedaannya. karenanya yg diajarkan budha dan siwa itu satu/tunggal, berbeda mereka tetapi hakikatnya satu tidak ada dharma/kebenaran yg mendua)

Kemudian Rudra menjadi tenang dan meninggalkan badan Purusada/Jayantaka, Jayantaka yang sudah tidak berdaya karena ditinggalkan oleh rudra. Sutasoma mengatakan kepada Jayantaka bahwa dia masih bersedia dikorbankan kepada Bhatara Kala dan berharap agar 100 raja yang lain dibebaskan oleh Bhatara Kala, biarlah dia sendiri yang dimakan oleh Bhatara Kala.

Mendengar hal tersebut Jayantaka menjadi sangat hormat kepada Sutasoma. Dia mencegah Sutasoma mengorbankan dirinya, dia ingin berguru kepada Sutasoma. Tetapi Sutasoma tetap ingin berkorban agar 100 raja yang lain dibebaskan

Akhirnya mereka menghadapa Bhatara Kala, Sutasoma meminta agar 100 raja tersebut dibebaskan dan dia bersedia menyerahkan diri. Dia memberikan petuah kepada 100 Raja tersebut agat tidak balas dendam kepada Jayantaka. Setelah memberikan wejangan kepada 100 raja tersebut, Sutasoma kemudian ditelan oleh Bhatara kala yang berubah menjadi Naga Mahaanantabhoga.

Namun ketika kakinya menyentuh perut sang naga, sang naga merasakan cinta kasih yang luar biasa hingga akhirnya dia tercerahkan. Bhatara Kala kemudian menyembah Sutasoma dan menjadi biksu. Sutasoma kemudian memberikan wejangan mengenai ajaran Budha terutama wajrayana.

Bhatara Kala berkat tapanya kemudian berubah menjadi Hyang Pasupati dan Sutasoma digantikan anaknya yaitu Arrdhana sebagai raja Hastina.-Dwi retno  mastuti dan Hastho Bramantyo - (Kakawin Sutasoma Mpu Tantular)

img
BeJo@25
EDITOR