Bhinneka Tunggal Ika (tan hana dharma manrwa)

  • Kawruh Jowo
  • 06 Jan 2018 | 09:30 WIB
  • Oleh bejo25
  • Dilihat 650 kali
image
Foto.(istimewa)

Beritajowo.com // babad tanah jowo Majapahit salah satu kerajaan besar yang pernah sukses mempersatukan Nusantara ini dengan kemegahan dan kebesarannya.

Wilayah Negara Indonesia ini dahulu adalah wilayah kerajaan Majapahit, bahkan pada masa itu wilayahnya lebih luas lagi.

Kitab Negarakretagama mengungkap tentang luas wilayah kerajaan Majapahit ini, sampai saat inipun masih banyak ditemui tempat-tempat yang mengindikasikan kebesaran dan luasnya wilayah kerajaan Majapahit tersebut.

Sasanti yang tersemat pada Lambang Negara Indonesia pada dasarnya berasal dari jaman kerajaan Majapahit yang lengkapnya berbunyi BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DHARMA MANGRWA yang merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuno yaitu kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular.

Sasanti ini mengajarkan toleransi antar umat beragama (yang pada waktu itu antara umat Hindu dan Budha), meskipun berbeda namun tetap satu jua adanya.

Kutipan sasanti tersebut berasal dari pupuh 139 bait ke 5 dari kakawin Sutasoma yang secara lengkap berbunyi  :

"Rw neka dh tu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan iwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa".

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Bilamana diterjemahkan kata per kata akan menjadi seperti berikut ini, kata bhinneka berarti "beraneka ragam" atau berbeda-beda. Kata neka dalam bahasa Sanskerta berarti "macam" dan menjadi pembentuk kata "aneka" dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti "satu".

Kata ika berarti "itu". Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan.

Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan itu.

Kembali kepada kerajaan Majapahit, dari tinjauan terhadap sasanti Bhinneka Tunggal Ika (tan hana dharma manrwa) tersebut dapatlah kita tarik suatu kesimpulan bahwa kerajaan Majapahit dapat menjadi besar, megah dan berjaya adalah karena adanya persatuan dan kesatuan yang militan diantara masyarakatnya pada waktu itu.

Bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh, hal ini pulalah yang menjadi motto pejuang-pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia untuk merebut serta mewujudkan suatu kemerdekaan yang hakiki.

Kemegahan dan kebesaran kerajaan Majapahit tersebut kini telah hilang lenyap seiring dengan kemajuan jaman (yang cenderung imperialis, individualis dan konsumtif) yang berkedok kepada Era Globalisasi.

Majapahit adalah sebuah kerajaan besar yang harus ditiru pola dan tatanan kehidupan masyarakatnya pada waktu itu. Janganlah kita tenggelam dengan apa yang disebut dengan Era Globalilasi ini, mestinya kita dapat menggali kembali kemandirian masyarakat Majapahit pada waktu itu demi kejayaan Indonesia masa kini. Demi harkat dan martabat bangsa Indonesia ke depan.(info Majapahit Wiwatikta)

img
BeJo@25
EDITOR

Budaya Lokal Terbaru