Olah Sukma Ilmu Merogoh Sukma (Bag III)

  • Adat Jowo
  • 31 Des 2017 | 15:41 WIB
  • Oleh bejo25
  • Dilihat 525 kali
image
Foto.(istimewa)

Ilmu  Merogoh Sukma  atau  Melolos Sukma.

Dengan ilmu ini keseluruhan sukma / roh kita dapat pergi keluar dari raga kita. Jadi secara sadar kita bisa keluar dari badan kita, pergi mendatangi tempat yang jauh atau melihat dunia gaib beserta sosok-sosok penghuninya, atau bertarung secara roh dengan mahluk halus lain.

Misalnya badan kita ada di rumah, sedangkan kita (roh) pergi jauh ke tempat lain. Badan yang kita tinggalkan akan tampak seperti badan orang yang sedang tidur atau mati suri.

Kelemahan ilmu ini adalah kita tidak boleh berlama-lama keluar dari badan kita.  Roh manusia atau sukma adalah penentu adanya energi kehidupan di dalam tubuh manusia.Jangan sampai karena roh kita kelamaan keluar dari raga kita, maka energi kehidupan di dalam raga itu menjadi mati.

Kelemahan lainnya adalah pada saat kita merogoh sukma, badan kita tidak boleh disentuh atau dikagetkan atau dibangunkan oleh orang lain yang tidak tahu kalau kita sedang merogoh sukma.

Bila hal itu terjadi, maka mungkin kemudian penyatuan sukma kita dengan badan kita tidak sempurna (bisa lemah tubuhnya, atau lemah ingatannya atau terganggu jiwanya).

Karena itu, seringkali orang yang akan menjalankan ilmu ini akan mengunci diri di dalam kamar tertutup, atau menyepi di goa / tempat yang sepi tidak berpenghuni, supaya tidak ada yang mengganggu.

Dan di alam gaib, sukmanya tidak boleh sampai ditahan atau ditangkap oleh sosok gaib lain untuk waktu yang lama. Jika itu terjadi, maka sukmanya tidak dapat kembali lagi menyatu dengan raganya, karena raga itu sudah mati.

Roh atau Sukma adalah penentu adanya energi kehidupan di tubuh manusia. Seseorang yang sedang merogoh sukma tidak boleh terlalu lama rohnya keluar dari tubuhnya, jangan sampai ketika ia kembali ternyata tubuhnya telah mati (karena energi kehidupannya telah mati).

Jadi kalau seseorang keasyikan berada di alam roh atau rohnya ada yang menahan sehingga tidak dapat segera kembali ke tubuhnya, sehingga menjadi terlalu lama rohnya berada di luar tubuhnya, mungkin dia tidak akan bisa kembali lagi ke tubuhnya, karena bisa jadi energi kehidupan di tubuhnya telah mati.

Pada saat seseorang merogoh sukma ada garis sinar putih keperakan yang menghubungkan pusar tubuhnya dengan pusar di tubuh rohnya. Kekuatan sukma menentukan tebal tipisnya garis sinar itu. Semakin lama rohnya berada di luar tubuhnya, sinar keperakan itu akan semakin memudar.

Ketika sinar itu sudah semakin memudar / menipis, itulah tanda bahwa roh orang itu harus secepatnya kembali ke tubuhnya. Kalau kemudian sinar itu sirna / hilang, maka putuslah hubungan kehidupan rohnya dengan tubuhnya.
 
Pada jaman dulu seseorang yang menekuni dan mendalami kebatinan biasanya akan memiliki kegaiban dan kekuatan batin yang tinggi, yang berasal dari keyakinan batin dan keselarasan dengan ke-maha-kuasa-an Tuhan.  Banyak di antara mereka yang memiliki kegaiban tinggi dan menjadi orang yang linuwih dan waskita.

Mereka membentuk pribadi dan sukma yang selaras dengan keillahian Tuhan.

Mereka membebaskan diri dari belenggu keduniawian, sehingga berpuasa dan hidup prihatin tidak makan dan minum selama berhari-hari bukanlah beban berat bagi mereka, dan melepaskan keterikatan roh mereka dari tubuh biologis mereka, kemampuan melolos sukma, bukanlah sesuatu yang istimewa. Bahkan banyak di antara mereka yang kemudian moksa, bersama raganya berpindah dari alam manusia ke alam roh tanpa terlebih dahulu mengalami kematian.

Pada jaman sekarang seringkali kemampuan merogoh sukma ini didapatkan dengan cara mengamalkan mantra / amalan ilmu gaib dan ilmu khodam.

Seringkali penggunaan ilmu merogoh sukma itu di dalam amalan / mantranya dikhususkan hanya untuk tujuan tertentu saja dan tidak bisa digunakan untuk tujuan lain yang tidak disebutkan di dalam mantranya.

Misalnya di dalam mantranya hanya untuk melihat suatu lokasi tertentu saja di alam manusia atau hanya untuk berjalan-jalan di alam gaib (tidak untuk melihat sosok-sosok gaib), atau dikhususkan hanya untuk melihat / bertemu dengan sosok halus tertentu saja (tidak untuk melihat sosok-sosok halus yang lain dan tidak untuk melihat lokasi yang lain).

Selain adanya keterbatasan pada penggunaannya seperti disebutkan di atas, para pelaku merogoh sukma, dalam kondisinya ketika tidak sedang merogoh sukma belum tentu orang itu dapat melihat gaib, karena kemampuannya melihat gaib hanya bisa dilakukannya ketika sedang merogoh sukma, itu pun hanya untuk melihat sosok-sosok halus tertentu saja.

Bisa terjadi begitu karena orang itu secara sadar (ketika tidak sedang merogoh sukma) belum bisa membebaskan rohnya dari belenggu biologisnya, rohnya di dalam tubuhnya belum bisa berinteraksi dengan dunia roh.

img
BeJo@25
EDITOR

Budaya Lokal Terbaru