Sekaten Grebeg Solo, Tradisi Sambut Kelahiran Nabi Muhammad

  • Adat Jowo
  • 30 Nov 2017 | 14:24 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 439 kali
image
Foto:istimewa

beritajowo.com // Sekaten adalah festival rakyat tahunan yang diadakan pada tiap tanggal lima pada bulan Jawa Mulud yakni bulan yang ketiga, dan sesuai dengan sistem kalender Jawa.

Festival Sekaten Solo didedikasikan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Festival ini dimulai ketika dua gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari mulai dikumandangkan untuk gending ( komposisi musik Jawa) Rambu dan Rangkur.

Berdasarkan sejarah, gending ini diciptakan oleh Wali Songo di abad ke-15 untuk menarik orang-orang dalam penyebaran Islam.

Untuk menarik perhatian orang, gamelan yang dibuat ulang dengan ukuran lebih besara agar suara berkumandang lebih keras agar menjangkau  orang-orang lebih jauh.

Sekaten berasal dari kata syahadatain atau syahadat. Syahadatain adalah dua kalimat yang diucapkan seseorang ketika akan memeluk agama Islam.

Kalimat pertama adalah pengakuan kepada Allah yang dilambangkan dengan Gamelan Kyai Guntur Madu, sedangkan kalimat kedua  adalah pengakuan bahwa Muhammad SAW sebagai utusan Allah dilambangkan dengan Gamelan Kyai Guntur Sari.

Pada masanya, Wali Songo mendakwahkan Islam selama tujuh hari berturut-turut (Malam Sekaten) dengan latar gending gamelan.

Sekarang ini, selain untuk mempertahankan budaya Jawa, Sekaten juga bertujuan untuk memenuhi sektor ekonomi dan pariwisata di area Solo.

Beberapa ritual atau yang biasa dikenal sebagai Grebeg Mauludan masih dilestarikan sebagai tradisi dan daya tarik untuk menarik perhatian para wisatawan.

img
BeJo@17
EDITOR
Loading...

Budaya Lokal Terbaru