Pasaran Memiliki nilai Tersendiri

  • Adat Jowo
  • 05 Nov 2017 | 15:55 WIB
  • Oleh bejo22
  • Dilihat 196 kali
image
Foto:istimewa

beritajowo.com - pasaran mengajarkan nilai mendidik bagi anak-anak,contohnya seperti berikut.

- Nilai hidup 

Padahal disadari atau tidak, pasaran dapat mengajarkan hidup bermasyarakat dalam jiwa anak-anak. Melalui pasaran, mereka memiliki peran-peran tertentu layaknya hidup bermasyarakat. Ada yang menjadi penjual, ada yang pembeli, misalnya.

Penjual harus menata barang-barang yang akan dijual. Menentukan harga-harga barang. Anak-anak belajar mengorganisasi, menglasifikasi, dan mengambil inisiatif dalam hal ini. Mereka tentu akan menata barang-barang itu dengan teratur dan rapi. Tentu membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian dalam menentukan harga barang-barang. Ada yang mahal, sedang, dan murah sesuai dengan (mungkin) ukuran barangnya.

Yang berperan sebagai pembeli, tentu belajar berhati-hati dalam memilih barang. Mana barang yang dibutuhkan, mana yang tidak. Berapa harus membayar.

Perlu ditawaratau tidak. Dari situ mereka belajar hidup ekonomis.Bagiamana menghargai orang lain. Boleh jadi mereka belum mengenal istilah-istilah demikian, tetapi mereka dapat melakukannya dalam permainan pasaran dengan baik.

Mereka juga berlatih berkomunukasi sesuai dengan peran mereka. Bagaimana menjadi penjual harus berbicara dengan pembeli, begitu pun pembeli terhadap penjual.

Aturan jual-beli pastilah dilakukan, misalnya harus membayar, memberi kembalian, memilih barang yang dibutuhkan, menawar, dan sebagainya.

Nilai-nilai hidup itu dapat membentuk pribadi anak, yang dapat menjadi bekal positif dalam hidup bermasyarakat kelak. Saya yakin, anak-anak yang demikian sangat menghargai hidup. Tidak hanya hidupnya sendiri, tetapi juga hidup orang lain. Dengan begitu, keharmonisan hidup bersosial dapat dipersiapkan sejak anak-anak.

- Penyimpangan sosial

Kalau itu yang terjadi, tentu dijamin tak ada peselisihan antarpelajar (anak-anak). Karena mereka sudah mengenal hidup berdampingan, bermasyarakat, bersama, dan saling membutuhkan satu dengan yang lain, yang dapat dilakukan dalam permainan pasaran.

Akan tetapi, kalau sekarang ada dan bahkan sering djumpai tawuran antarpelajar, boleh jadi seiring dengan jarangnya anak-anak bermain pasaran.

Nilai-nilai sosial dalam kehidupan anak-anak (juga orang tua) mulai menghilang. Sikap peduli terhadap teman telah sulit dijumpai.

Lebih banyak yang menghindar saat ada seseorang membutuhkan pertolongan daripada memberiperhatian. Dengan berbagai alasan menghindar dari hal itu. Tak acuh terhadap sesama mewarnai hidup banyak orang.

Kepentingan pribadi lebih ditonjolkan. Banyak orang berpikir, buat apa terlibat dalam perihal orang lain jika malah merugikan. Kini, perhitungan untung rugi menjadi sebuah pilihan hidup pribadi. Tentu selalu memilih yang memberi untung.

Memilih terlibat dalam perihal yang dihadapi orang bukan sebuah pilihan yang menguntungkan, tapi merugikan. Maka, sering dijauhi. Yang terjadi akhirnya penyimpangan sosial pada anak-anak dan bahkan bukan mustahil berlanjut hingga dewasa.

Maka, untuk mengantisipasi, memopulerkan permainan pasaran pada anak-anak perlu dilakukan. Memberi ruang bermain pasaran dan memotivasi di saat-saat tertentu di lingkungan tempat tinggal mereka sangat dianjurkan. Bahkan, bukan tidak mungkin di sekolah-sekolah rendah diadakan permaian pasaran pada jam-jam pelajaran tertentu. 

Disekolah-sekolah lebih atas, bazar dapat menjadi pilihan yang menarik dalam membangun pribadi anak.

img
BeJo@22
EDITOR
Loading...

Budaya Lokal Terbaru