Meneladani Kesalehan Ki Ageng Giri

image
foto: Suaramerdeka/dok

KELUARGA besar Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima memiliki salah satu tradisi keagamaan bernama Setu Legen. Berasal dari kata Setu Legi, nama hari dalam bahasa Jawa yang berarti hari Sabtu dengan pasaran Legi. Pelaksanaannya setiap 35 hari sesuai dengan perhitungan kalender dalam tradisi budaya Jawa. Tradisi itu telah berlangsung belasan tahun.

Ada dua kegiatan utama dalam tradisi tersebut. Kegiatan pertama dilaksanakan pada Jumat Kliwon malam, berdasar penanggalan Jawa berarti sudah masuk pada hari Sabtu Legi. Pada malam itu, sekitar pukul 21.00 wib rombongan pengurus, guru, dan tenaga kependidikan Nasima melaksanakan ziarah ke makam seorang wali Allah, auliya atau ulama yang diakui derajat ilmu dan kesalehannya. Lokasinya ada beberapa di Kota Semarang dan sekitarnya, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, termasuk sampai ke Pulau Madura.

Dipimpin KH Hanief Ismail Lc didampingi para ustadz  hafidz Alquran para jamaah yang turut serta mengenali kisah sejarah dan nilai-nilai teladan dari wali, auliya atau ulama besar yang diziarahi. Secara gotong royong jamaah membersihkan dan merapikan lingkungan makam seperlunya. Setelah itu jamaah khusyuk melafalkan bacaan Rathibul Athas, surat Yasin, tahlil, dan doa kepada Allah Swt.

Keesokan harinya, di aula SD Nasima, masjid Baitul Alim SMP Nasima, dan Masjid Baitul Masykur SMA Nasima dilaksanakan khataman dan simakan Alquran 30 juz. Para hafidz dan hafidzah yang tergabung dalam tim pendidik mata pelajaran Baca Tulis Alquran melantunkan Alquran secara berkesinambungan. Guru dan tenaga kependidikan yang lain menyimaknya. Pada hari itu semua kegiatan selain khataman dan simakan Alquran dihentikan sementara. Semua bergabung dalam jamaah.

Mbah Hadi Girikusumo

Menutup tahun 2018, jamaah Setu Legen YPI Nasima ziarah ke makam KH Hasan Muhibat atau Ki Ageng Giri atau Mbah Hadi di Makam Kasepuhan Girikusumo, Mranggen, Demak. Ki Ageng Giri bergaris keturunan wali yaitu bertalian darah keturunan Sunan Pandanaran I (Semarang) dan Sunan Tembayat (Klaten). Dia seorang yang santun dan cerdas. Suatu saat dia mendapat isyarat dari Allah Swt untuk menyebarkan Islam di daerah yang dikelilingi empat gunung atau bukit. Akhirnya ditemukanlah daerah itu, yaitu di suatu dataran yang dikelilingi hutan dan empat gunung atau bukit yang selanjutnya nanti dikenal sebagai daerah Girikusumo. Salah satu daerah di pinggir barat daya Kabupaten Demak dekat dengan perbatasan Kabupaten Semarang.

Setelah menemukan tempat, Mbah Hadi menandai awal dakwahnya dengan mendirikan Masjid Baitussalam yang dia bangun hanya dalam waktu semalam. Berkat pertolongan Allah Swt masjid tersebut mulai dibangun sekitar pukul sembilan malam dan selesai pada pukul 01.00 dinihari. Sebuah ukiran pada prasasti masjid menuliskan peristiwa tersebut dalam bentuk tulisan huruf pegon. Perjuangannya berhasil menjadikan daerah Mranggen, Karangawen, dan sekitarnya mayoritas memeluk Islam. Di sekitar masjid tersebut sekarang telah berkembang menjadi pondok pesantren ternama bernama Pondok Pesantren Girikusumo. Sekarang pondok pesantren diasuh KH Munif Muhammad Zuhri (Gus Munif).

 “Setu Legen adalah tradisi keagamaan yang baik di Nasima. Ziarah ke makam auliya mengingatkan kita pada kematian. Selain itu kita bisa mengenal dan meneladani kesalehan para wali, auliya atau ulama meski mereka telah wafat puluhan bahkan ratusan tahun yang lampau. Selain itu sikap hormat dan tawadu kepada para ulama, meski telah meninggal dunia akan selalu terjaga pada diri kita sebagai salah satu karakter muslim yang senantiasa menebar Islam Rahmatan lil Alamin. Lafal-lafal ayat Alquran, kalimat tayibah, salawat, dan doa yang kita panjatkan Insya Allah semakin memperkuat keimanan kita pada Allah Swt,” kata KH Hanief Ismail Lc, pemimpin jamaah Setu Legen sekaligus Ketua Pembina YPI Nasima.

img
BeJo@17
EDITOR

Budaya Lokal Terbaru