Mulabukane Desa Poncoruso Bawen, Ada Setelah Didirikan Padepokan Ponco

image
foto: Suaramerdeka/dok

WILAYAH Desa Poncoruso, Bawen, Kabupaten Semarang dahulu dikenal sebagai hutan belantara. Wilayah di lereng Gunung Ungaran ini, berubah menjadi ramai pascamasa Perang Majapahit. Kasi Pelayanan Pemerintah Desa Poncoruso, Sri Widodo (50) mengatakan, saat pecah perang tersebut ada lima orang prajurit Majapahit yang berlindung karena kalah dan mendirikan padepokan di wilayah Desa Poncoruso. Dua dari lima orang prajurit tadi, berhasil teridentifikasi. Dia adalah Kiai Ageng Abdul Somad, dan istrinya Siti Komariyah. Kemudian ada satu murid bernama Mbah Wongso.

“Padepokan itu diberi nama Padepokan Ponco. Yang artinya, didirikan oleh lima orang. Kata ruso, berarti kuat karena murid dari padepokan tersebut rutin berlatih,” katanya, Minggu (25/11).

Desa Poncosuro, lanjutnya, kemudian dibagi menjadi dua dusun. Dusun Poncoroso dan Dusun Srumbung Gunung. Mayoritas warganya, bermata pencaharian sebagai petani dan tukang sayur. Adapun warga yang masuk kategori usia muda, banyak memilih menjadi buruh pabrik.

Apabila ditotal, jumlah penduduk Desa Poncoruso ada lebih dari 2.200 orang. Batas sisi timur area desa ini, adalah Desa Samban. Kemudian batas barat dengan Desa Jimbaran, batas selatan dengan Desa Mlilir, dan sisi utaranya berbatasan dengan Dusun Kalikembar, Desa Pakopen.

“Kesenian yang khas ada rebana dan kuda lumping. Grup rebana ada tiga, satu diantaranya grup beranggotakan anak-anak,” terang pria yang menetap di RT 05 RW  II Dusun Poncoruso Krajan itu.

Kaitannya dengan sedekah desa,  Sri Widodo menuturkan, biasa digelar setiap tahun tepatnya pada Juli atau Agustus. Namun apabila kedua bulan tadi ternyata bertepatan dengan Ramadan, maka kegiatannnya otomatis diundur berdasarkan hasil musyawarah desa.

Berbicara Sendang Ayu Sri Mulyo yang lokasinya berada di tepi Jalan Ponco Sentiko tersebut, dari cerita tutur memang dikenal sebagai mata air yang tidak pernah surut. Air dari sumber, dimanfaatkan masyarakat setempat untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

“Kegiatan ketika sedekah desa sangatlah sederhana, sebatas bersih-bersih Sendang Ayu Sri Mulyo. Kemudian ada pentas wayang kulit dan pengajian yang disepakati bergantian setiap tahunnya,” tutur dia.

Dilansir dari Suaramerdeka.com

img
BeJo@17
EDITOR

Budaya Lokal Terbaru