Asal Muasal Nama Tembalang Semarang

image
foto: Istimewa

beritajowo.com / jakarta - Menjelajahi Semarang memang tak ada habisnya. Ibu kota Jawa Tengah ini punya segudang tempat yang menarik, baik dari keindahan alamnya maupun cerita di baliknya. Satu yang masih belum banyak diketahui adalah asal usul daerah Tembalang. Meski kini Tembalang menjadi daerah yang sangat padat, legenda kemunculan wilayah itu nampaknya tak semoncer bangunan-bangunan megah di sekitarnya.

Menurut cerita tutur, ketika Raden Pandan Arang mengadakan pertemuan dengan para santri dan abdi dalem, Raden Pandan Arang berkeinginan melakukan perjalanan ke wilayah selatan Semarang. Dengan berbekal secukupnya, berangkatlah beliau bersama 50 orang santri dan abdi dalem berjalan ke arah selatan.

Saat tiba di sebuah perkampungan yang terletak di atas bukit, Raden Pandan Arang bersama pengikutnya memutuskan untuk beristirahat. Tanah di daerah itu amat subur. Segala janis tanaman dapat hidup. Mereka sebagian besar hidup dari bertani.

Di wilayah itu terdapat sembilan mata air, yang oleh penduduk setempat dikenal dengan istilah “tuk sanga“. Tuk adalah bahasa Jawa yang artinya “mata air”,sedangkan sanga artinya “sembilan”.

Semula keberadaan ke sembilan mata air tersebut tidak menjadi masalah. Bahkan sangat menguntungkan bagi penduduk setempat. Namun kelamaan air yang keluar dari ke sembilan mata air itu terlalu besar, sehingga menggenang di berbagai tempat. Bahkan kemudian terbentuklah sebuah danau yang semakin lama semakin besar.

Meski penduduk berusaha menutup lubang – lubang mata air itu, mereka selalu gagal. Tanah, bahkan batu – batu yang besar yang mereka gunakan untuk menutup mata air-mata air itu selalu saja tenggelam.

 

Foto: merdeka

Foto: merdeka

Pada saat masyarakat setempat hampir putus as, muncullah Raden Pandan Arang beserta rombongannya. Sesaat Raden Pandan Arang mengambil air wudhu dan menunaikan shalat.

Selepas shalat dan berdoa, beliau lalu berpesan, "Saudara-saudara, sepeninggal kami dari desa ini, insya Allah mata air-mata air itu akan segera tidak mengeluarkan air lagi. Cuma satu yang tersisa. Itu masih saudara-saudara perlukan untuk kehidupan sehari-hari. Pesan saya, jagalah kebersihan mata air tersebut, kedua, berilah nama desa ini Tambalang”

Tambalang berasal dari kata "tambal" dan "ilang". Ini lantaran penduduk selalu gagal saat menambal lubang-lubang mata air itu.

Bersamaan dengan kepergian Raden Pandan Arang, sedikit demi sedikit air yang keluar dari mata air – mata air itu pun semakin mengecil dan akhirnya berhenti sama sekali. Tinggal sebuah mata air yang masih mengeluarkan air, itupun dengan aliran yang tak seberapa besar.

Kini Kecamatan Tembalang terbagi ke dalam 12 kelurahan. Wilayah itu kian tahun kian ramai, seiring dengan berdirinya perguruan tinggi ternama, Universitas Diponegoro.

img
Bj 02
EDITOR

Budaya Lokal Terbaru