Makna Lirik Gundul-Gundul Pacul

  • Kawruh Jowo
  • 01 Nov 2017 | 04:51 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 1160 kali
image
(Foto: pulau fauna)

Budaya, beritajowo.com - Siapa tak kenal dengan lagu Gundul-Gundul Pacul? Sebagai orang Nuswantara atau sebagai orang Jawa, pasti mengenal lagu ini. Yang sering ditembangkan oleh kawula alit, kawula muda, atau bahkan kawula tua. Sekilas tampak sebagai lagu dolanan, tembang yang hanya berfungsi sebagai permainan. Padahal konon katanya, tembang Jawa ini diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yang dalam dan sangat mulia.

Berikut mungkin makna filosofis yang dapat ditangkap dari tembang satu ini:

"Gundul-gundul Pacul cul.. Gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul kul.. Gembelengan
Wakul nggelimpang, segane dadi sak latar 2x"

Gundul adalah kepala, dan orang jawa seringkali menggunakan istilah ini untuk kepala yang tidak memiliki rambut alias plontos.

Namun kita akan melihat ‘kepala’ itu sendiri yang dianggap selama ini sebagai lambang kehormatan dan kemuliaan seseorang. Dan rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala.

Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota.

Sedangkan pacul adalah cangkul yaitu alat yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul melambangkan kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul pacul artinya: bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Ada juga Orang Jawa yang memaknai pacul sebagai papat kang ucul(empat yang lepas).

Artinya bahwa: kemuliaan seseorang akan sangat tergantung 4 hal, yaitu: bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.
1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.   
2.Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.       
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.     
4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.   
Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Karena itu 'Gundul-gundul Pacul' bisa dimaknai dengan dua hal:
1. Seorang pemimpin harus amanah, jangan hanya memikirkan kehormatannya
2. Gambaran seorang pemimpin yang tidak amanah, yang sudah tidak sanggup lagi untuk menggunakan empat indra tersebut sebaik-baiknya.

Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.

Jadi, "Gundul-gundul pacul cul gembelengan" artinya jika seorang pemimpin yang seharusnya menunaikan amanah rakyat,  ternyata malah kehilangan 4 indra, akhirnya akan menjadi "GEMBELENGAN" sombong, dan menjadikan kehormatannya sebagai sebuah permainan. 

Sedangkan "Nyunggi-nyunggi wakul kul" artinya seorang pemimpin harus selalu NYUNGGI WAKUL (memikul bakul/tempat nasi), yang berarti menjunjung amanah dan mengupayakan kesejahteraan rakyat.

Namun dalam realitasnya sering ditemui pemimpin yang "nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan" atau pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri.

Akhirnya WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh tidak dapat  dipertahankan) SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia-sia, tak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat)

Intinya, Mari kita memilih pemimpin yang amanah dan tanggung jawab. Bukan pemimpin yang mementingkan perutnya sendiri. Dan bagi para pemimpin, sudah kewajiban anda untuk menggunakan 4 indra sebaik mungkin. Agar tidak UCUL, hingga WAKUL kalian menjadi NGGELIMPANG.

img
BeJo@23
EDITOR

Budaya Lokal Terbaru