Negara Kertagama : Pupuh XCIII, XCIV, XCV

  • Kawruh Jowo
  • 27 Mar 2018 | 07:04 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 47 kali
image
Foto: istimewa

beritajowo.com // Kudus - Berikut ini lanjutan Terjemahan dari Kitab Negara Kertagama karya Mpu Prapanca.

NEGARAKERTAGAMA :

Pupuh XCIII

1. Semua pendeta dari tanah asing menggubah pujian Baginda, Sang pendeta Budaditya menggubah rangkaian seloka Bogawali, Tempat tumpah darahnya Kancipuri di Sadwihara di Jambudwipa, Brahmana Sri Mutali Saherdaya menggubah pujian seloka indah.

2. Begitu pula para pendeta di Jawa, pujangga, sarjana sastra, Bersama-sama merumpaka seloka puja sastra untuk nyanyian, Yang terpenting puja sastra di prasasti, gubahan upapati Sudarma, Berupa kakawin, hanya boleh diperdengarkan di dalam istana.

Pupuh XCIV

1. Mendengar pujian para pujanggga pura bergetar mencakar udara, Prapanca bangkit turut memuji Baginda, meski tak akan sampai pura, Maksud pujiannya, agar Baginda gembira jika mendengar gubahannya, Berdoa demi kesejahteraan negara, terutama Baginda dan rakyat.

2. Tahun Saka gunung gajah budi dan janma (1287) bulan aswina hari purnama, Siaplah kakawin pujaan tentang perjalanan jaya keliling negara, Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut desawarnana, Dengan maksud, agar Baginda ingat jika membaca hikmat kalimat.

3. Sia-sia lama bertekun menggubah kakawin menyurat di atas daun lontar, Yang pertama “Tahun Saka”, yang kedua “Lambang” kemudian “Parwasagara”, Berikut yang keempat “Bismacarana”, akhirnya cerita“Sugataparwa”, Lambang dan Tahun Saka masih akan diteruskan, sebab memang belum siap.

4. Meskipun tidak semahir para pujangga di dalam menggubah kakawin, Terdorong cinta bakti kepada Baginda, ikut membuat puja sastra, Berupa karya kakawin, sederhana tentang rangkaian sejarah desa, Apa boleh buat harus berkorban rasa, pasti akan ditertawakan.

Pupuh XCV

1. Nasib badan dihina oleh para bangsawan, canggung tingggal di dusun, Hati gundah kurang senang, sedih, rugi tidak mendengar ujar … manis, Teman karib dan orang budiman meningggalkan tanpa belas kasihan, Apa gunanya mengenal ajaran kasih, jika tidak diamalkan?.

2. Karena kemewahan berlimpah, tidak ada minat untuk beramal, Buta, tuli, tak nampak sinar memancar dalam kesedihan, kesepian, Seyogyanya ajaran sang Mahamuni diserapkan bagai pegangan, Mengharapkan kasih yang tak kunjung datang, akan membawa mati muda.

3. Segera bertapa brata di lereng gunung, masuk ke dalam hutan, Membuat rumah dan tempat persajian di tempat sepi dan bertapa, Halaman rumah ditanami pohon kamala, asana, tinggi-tinggi, Memang Kamalasana nama dukuhnya sudah sejak lama dikenal

img
BeJo@23
EDITOR