Negara Kertagama : Pupuh LXIV, LXV, LXVI

  • Kawruh Jowo
  • 14 Mar 2018 | 07:08 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 104 kali
image
Foto: istimewa

beritajowo.com // Malang - Berikut ini lanjutan Terjemahan dari Kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca :

NEGARAKERTAGAMA

Pupuh LXIV

1. Ketika saatnya tiba, tempat telah teratur sangat rapi, Balai Witana terhias indah, di hadapan rumah-rumahan, Satu di antaranya berkaki batu karang, bertiang merah, Indah dipandang, semua menghadap ke arah takhta Baginda.

2. Barat, mandapa dihias janur rumbai, tempat duduk para raja, Utara, serambi dihias berlapis ke timur, tempat duduk, Para isteri, pembesar, menteri, pujangga serta pendeta, Selatan, beberapa serambi berhias bergas untuk abdi.

3. Demikian persiapan Sri Baginda memuja Buda Sakti, Semua pendeta Buda berdiri dalam lingkaran bagai saksi, Melakukan upacara, dipimpin oleh pendeta Stapaka, Tenang, sopan, budiman faham tentang sastra tiga tantra.

4. Umurnya melintasi seribu bulan, masih belajar tutur, Tubuhnya sudah rapuh, selama upacara harus dibantu, Empu dari Paruh selaku pembantu berjalan di lingkaran, Mudra, mantra, dan japa dilakukan tepat menurut aturan.

5. Tanggal dua belas nyawa dipanggil dari surga dengan doa, Disuruh kembali atas doa dan upacara yang sempurna, Malamnya memuja arca bunga bagai penampung jiwa mulia, Dipimpin Dang Acarya, mengheningkan cipta, mengucap puja.

Pupuh LXV

1. Pagi purnamakala arca bunga dikeluarkan untuk upacara, Gemuruh disambut dengan dengung salung, tambur, terompet serta genderang, Didudukkan di atas singasana, besarnya setinggi orang berdiri, Berderet beruntun-runtun semua pendeta tua muda memuja.

2. Berikut para raja, parameswari dan putera mendekati arca, Lalu para patih dipimpin Gajah Mada maju ke muka berdatang sembah, Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru, Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.

3. Sri Nata Paguhan paling dahulu menghaturkan sajian makanan sedap, Bersusun timbun seperti pohon, dan sirih bertutup kain sutera, Persembahan raja Matahun arca banteng putih seperti lembu Nandini, Terus-menerus memuntahkan harta dan makanan dari nganga mulutnya.

4. Raja Wengker mempersembahkan sajian berupa rumah dengan taman bertingkat, Disertai penyebaran harta di lantai balai besar berhambur-hamburan, Elok persembahan raja Tumapel berupa perempuan cantik manis, Dipertunjukkan selama upacara untuk mengharu-rindukan hati.

5. Paling haibat persembahan Sri Baginda berupa gunung besar Mandara, Digerakkan oleh sejumlah dewa dan danawa dahsyat menggusarkan pandang, Ikan lambora besar berlembak-lembak mengebaki kolam bujur lebar, Bagaikan sedang mabuk diayun gelombang, ditengah tengah lautan besar.

6. Tiap hari persajian makanan yang dipersembahkan dibagi-bagi, Agar para wanita, menteri, pendeta dapat makanan sekenyangnya, Tidak terlangkahi para kesatria, arya dan para abdi di pura, Tak putusnya makanan sedap nyaman diedarkan kepada bala tentara.

Pupuh LXVI

1. Pada hari keenam pagi Sri Baginda bersiap mempersembahkan persajian, Pun para kesatria dan pembesar mempersembahkan rumah-rumahan yang terpikul, Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melukiskan kutipan kidung, Seperahu sungguh besarnya, diiringi gong dan bubar mengguntur menggembirakan.

2. Esoknya patih mangkubumi Gajah Mada sore-sore menghadap sambil menghaturkan, Sajian perempuan sedih merintih di bawah nagasari dibelit rajasa, Menteri, arya, bupati, pembesar desa pun turut menghaturkan persajian, Berbagai ragamnya, berduyun-duyun, ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan….

3. Sungguh- sungguh mengagumkan persembahan Baginda raja pada hari yang ketujuh, Beliau menabur harta, membagi-bagi bahan pakaian dan hidangan makanan, Luas merata kepada empat kasta, dan terutama kepada para pendeta, Hidangan jamuan kepada pembesar, abdi dan niaga mengalir bagai air.

4. Gemeruduk dan gemuruh para penonton dari segenap arah, berdesak-desak, Ribut berebut tempat melihat peristiwa di balai agung serta para luhur, Sri Nata menari di balai witana khusus untuk para puteri dan para istri, Yang duduk rapat rapi berimpit, ada yang ngelamun karena tercengang memandang.

5. Segala macam kesenangan yang menggembirakan hati rakyat diselenggarakan, Nyanyian, wayang, topeng silih berganti setiap hari dengan paduan suara, Tari perang prajurit, yang dahsyat berpukul-pukulan, menimbulkan gelak-mengakak, Terutama derma kepada orang yang menderita membangkitkan gembira rakyat.

img
BeJo@23
EDITOR

Budaya Lokal Terbaru