Negara Kertagama : Pupuh XVI, XVII, XVIII

  • Kawruh Jowo
  • 23 Feb 2018 | 07:05 WIB
  • Oleh Red
  • Dilihat 123 kali
image
Foto: istimewa

beritajowo.com // Semarang - Berikut ini lanjutan terjemahan Kitab Negara Kertagama Mpu Prapanca :

NEGARAKERTAGAMA

Pupuh XVI

1. Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di nusantara, Dilarang mengabaikan urusan negara, mengejar untung, Seyogyanya, jika mengemban perintah ke mana juga, Menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat.

2. Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata, Dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata, Dilarang menginjak tanah sebelah barat pulau Jawa, Karena penghuninya bukan penganut ajaran Buda.

3. Tanah sebelah timur Jawa terutama Gurun, Bali, Boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan, Bahkan menurut kabaran mahamuni Empu Barada, Serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh.

4. Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja, Dikirim ke timur ke barat, di mana mereka sempat, Melakukan persajian seperti perintah Sri Nata, Resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar.

5. Semua negara yang tunduk setia menganut perintah, Dijaga dan dilindungi Sri Nata dari pulau Jawa, Tapi yang membangkang, melanggar perintah, dibinasakan, Pimpinan angkatan laut, yang telah mashur lagi berjasa.

Pupuh XVII

1. Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah nusantara, Di Sripalatikta tempat beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia, Tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas, girang dan lega, Wipra, pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi mashur.

2. Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama, Lepas dari segala duka, mengeyam hidup penuh segala kenikmatan, Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Janggala Kediri, Berkumpul di istana bersama yang terampas dari negara tetangga.

3. Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Baginda, Ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura, Semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan, Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya.

4. Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling, Desa Sima di sebelah selatan Jalagiri, di sebelah timur pura, Ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan, Girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi Lima.

5. Atau pergilah beliau bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati, Biasanya terus menuju Blitar, Jimur mengunjungi gunung-gunung permai, Di Daha terutama ke Polaman, ke Kuwu dan Lingga hingga desa Bangin, Jika sampai di Jenggala, singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.

6. Tahun Aksatisurya (1275) sang prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring, Tahun Saka angga-naga-aryama (1276) ke Lasem, melintasi pantai samudra, Tahun Saka pintu-gunung-mendengar-indu (1279) ke laut selatan menembus hutan, Lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu dan Sideman. 7

. Tahun Saka seekor-naga-menelan bulan (1281) di Badrapada bulan tambah, Sri Nata pesiar keliling seluruh negara menuju kota Lumajang, Naik kereta diiringi semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi, Menteri, tanda, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta.

8. Juga yang menyamar Prapanca girang turut mengiring paduka Maharaja, Tak tersangkal girang sang kawi, putera pujangga, juga pencinta kakawin, Dipilih Sri Baginda sebagai pembesar kebudaan mengganti sang ayah, Semua pendeta Buda umerak membicarakan tingkah lakunya dulu.

9. Tingkah sang kawi waktu muda menghadap raja, berkata, berdamping, tak lain, Maksudnya mengambil hati, agar disuruh ikut beliau ke mana juga, Namun belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah dan menggubah, Karya kakawin; begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut.

10. Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah, Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Daluwang, Bebala di dekat Kanci, Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkaja memanjang bersambung-sambungan, Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi Jalan. 11. Habis berkunjung pada candi makam Pancasara, menginap di Kapulungan, Selanjutnya sang kawi bermalam di Waru, di Hering, tidak jauh dari pantai, Yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya, Tetapi masih tetap dalam tangan lain, rindu termenung-menung menunggu.

Pupuh XVIII

1. Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan, berdesak abdi berarak, Sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impit, Pedati di muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki, Berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah dan kuda. 2. Tak terhingga jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya, Meleret berkelompok-kelompok, karena tiap ment’ri lain lambangnya, Rakrian sang menteri patih amangkubumi penatang kerajaan, Keretanya beberapa ratus berkelompok dengan aneka tanda.

3. Segala kereta Sri Nata Pajang semua bergambar matahari, Semua kereta Sri Nata Lasem bergambar cemerlang banteng putih, Kendaraan Sri Nata Daha bergambar Dahakusuma mas mengkilat, Kereta Sri Nata Jiwana berhias bergas menarik perhatian.

4. Kereta Sri Nata Wilwatikta tak ternilai, bergambar buah maja, Beratap kain geringsing, berhias lukisan mas, bersinar merah indah, Semua pegawai, parameswari raja dan juga rani Sri Sudewi, Ringkasnya para wanita berkereta merah, berjalan paling muka.

5. Kereta Sri Nata berhias mas dan ratna manikam paling belakang, Jempana-jempana lainnya bercadar beledu, meluap gemerlap, Rapat rampak prajurit pengiring Janggala Kediri, Panglarang, Sedah, Bhayangkari gem’ruduk berbondong-bondong naik gajah dan kuda.

6. Pagi-pagi telah tiba di Pancuran Mungkur; Sri Nata ingin rehat, Sang rakawi menyidat jalan, menuju Sawungan mengunjungi akrab, Larut matahari berangkat lagi tepat waktu Sri Baginda lalu, Ke arah timur menuju Watu Kiken, lalu berhenti di Matanjung.

7. Dukuh sepi kebudaan dekat tepi jalan, pohonnya jarang-jarang, Berbeda-beda namanya Gelanggang, Badung, tidak jauh dari Barungbung, Tak terlupakan Ermanik, dukuh teguh-taat kepada Yanatraya, Puas sang dharmadhyaksa mencicipi aneka jamuan makan dan minum.

8. Sampai di Kulur, Batang di Gangan Asem perjalanan Sri Baginda Nata, Hari mulai teduh, surya terbenam, telah gelap pukul tujuh malam, Baginda memberi perintah memasang tenda di tengah-tengah sawah, Sudah siap habis makan, cepat-cepat mulai membagi-bagi tempat.

img
BeJo@23
EDITOR

Budaya Lokal Terbaru